Susahnya Beriman kepada Qada dan Qadar (Part 1)
Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw membahas beriman kepada Qada dan Qadar dalam podcast Putar Balik episode 7.
Podcast: Pandji Pragiwaksono & Ustadz Felix Siauw
Tanggal: 21-01-2026
Sumber: YouTube
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 7 ini Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw membahas tentang beriman kepada Qada dan Qadar. Ada beberapa hal menarik yang dibahas dalam podcast ini, sebagai berikut:
1. Apa itu qada dan qadar?
Qada adalah ketentuan atau keputusan dari Allah yang berlaku bagi seseorang dan sifatnya mengikat. Dalam bahasa Arab qadi adalah hakim atau orang yang memberikan keputusan. Qadar dalam bahasa Indonesia disebut kadar yaitu segala sesuatu yang ada di dalam sesuatu. Contoh: Kadar air di sini sekian %. Kalorinya sekian %. Qada dan qadar adalah 2 hal yang berbeda. Takdir adalah pengkadaran. Allah sudah menentukan berapa kadarnya. Terkadang orang juga bilang ini sudah qadarullah. Artinya Allah sudah menentukan kadarnya segini. Sudah ketentuan atau sunnatullah dari Allah. Contoh qadar: Api itu panas. Air itu mengalir dari atas ke bawah.
2. Apa yang dimaksud beriman kepada qada dan qadar?
Artinya beriman kepada setiap ketentuan Allah dan yang Allah berikan kepada suatu hal. Ini artinya kita dapat menerima sepenuhnya. Beriman kepada qada dan qadar adalah beriman kepada ketentuan Allah beserta kadar-kadarnya. Jadi kita tidak mempertanyakan ketentuan dari Allah. Hal ini akan sangat powerfull ketika seseorang bisa menempatkannya dengan tepat. Darimana kita tahu bahwa Allah rida kepada kita? Jawabannya sederhana, yaitu saat kita rida terhadap ketentuan dari Allah.
3. Hal yang sering menjadi masalah adalah seringkali orang tidak bisa membedakan mana yang qada dan qadar (takdir) dan mana yang bukan takdir
Orang-orang yang menganut paham stoikisme menganggap permasalahan itu hanya 1. Ada perbedaan antara harapan dan realitas. Yang seringkali menjadi masalah bagi manusia adalah cara mengatur masalah dan realitas. Semakin besar jarak antara harapan dengan realitas, maka akan semakin besar masalah. Maka solusinya hanya 2. Pertama, mendekatkan realitas kepada harapan. Kedua, mendekatkan harapan kepada realitas. Permasalahan orang-orang di dunia Barat adalah ketika mereka membangun sistem bahwa semua hal terjadi karena dirinya sendiri, maka setiap ada kesalahan, mereka akan berpikir bahwa ada yang salah pada dirinya. Hal ini membuat mereka merasa stres. Manusia yang merasa bahwa semua berada dalam kontrol dirinya pasti akan merasa stres. Karena bagaimanapun juga mereka tidak bisa mengontrol segala sesuatu. Sebaliknya di dunia Timur seringkali kontrol itu dilepaskan dari dirinya. Ketika ada sesuatu yang terjadi, maka mereka menyerahkan kepada alam. Ketika ada musibah, ini karena alam. Segala hal dianggap terjadi karena sesuatu yang ada di luar dirinya. Makanya mereka seringkali mencari solusi dari mistika. Sebaliknya orang-orang Barat mencari solusi dari logika. Logika ini ada batasnya, sedangkan mistika ini tidak ada batasnya. Keduanya kacau. Makanya agama Islam memberikan solusi terhadap masalah ini, dimana seharusnya kita meletakkan takdir ini.
4. Dalam pandangan penganut stoikisme, kalau kita tidak mau merasa sakit, maka jangan berharap
Tapi ini akan jadi masalah karena di dunia Barat orang masih berharap, tetapi tetap in control. Sedangkan di dunia Timur tidak usah berharap. Stoik itu gampangnya seperti filsafat Timur yang dimasukkan ke Barat. Dalam agama Islam diajarkan bahwa di satu titik kita harus benar-benar berserah. Sedangkan di satu titik yang lain kita harus berusaha seolah-olah itu berada di dalam kontrol kita. Jadi kita harus tahu mana yang dapat dikontrol dan mana yang tidak dapat dikontrol. Pemahaman ini didapat dari kebijaksanaan yang didasarkan dari pengalaman. Hal ini dapat dipelajari.
5. Rasulullah ﷺ terlebih dahulu mengajarkan praktik qada dan qadar kepada para sahabatnya, sehingga di zaman itu tidak ada kebingungan tentang qada dan qadar
Contoh: Sebelum pergi ke Perang Badar, Rasulullah ﷺ mengenakan 2 lapis baju zirah. Rasulullah ﷺ juga berdoa sangat panjang kepada Allah. Hal ini membuat para sahabat mengerti bahwa bentuk keyakinan dari Rasulullah ﷺ kepada Allah adalah beliau yakin Allah akan menjaganya. Tetapi Rasulullah ﷺ tetap memakai 2 lapis baju zirah, karena itu masih di wilayah yang dapat dikontrol oleh beliau. Penjelasan ini seharusnya bisa juga kita sampaikan kepada orang-orang yang naik motor tetapi tidak mau mengenakan helm.
6. Ketika kita yakin bahwa Allah akan menolong kita, maka kita akan lebih bersemangat untuk mencari rezeki
Orang yang merasa dia pasti akan mendapatkan rezekinya, tetapi dia malah malas-malasan, maka ini menunjukkan ia tidak memahami konsep takdir. Pada saat Allah meniupkan ruh kepada manusia, maka sebenarnya takdir kita sudah ditentukan. Apakah kita akan jadi orang yang bahagia atau sengsara nanti di dunia. Juga sudah dicatatkan apakah seseorang akan masuk surga atau masuk neraka. Apakah kita akan mati sebagai orang yang husnul khatimah atau su’ul khatimah.
7. Para sahabat bertanya: Kalau semuanya sudah ditentukan Allah dan tertulis di lauhul mahfudz lalu untuk apa kita beribadah?
Pertanyaan dari para sahabat ini dijawab Rasulullah ﷺ dengan mengutip firman Allah dalam Surat Al-Lail ayat 5-10: (5) Fa ammaa man a’ṭaa wattaqaa. (6) Wa ṣaddaqa bil-ḥusna. (7) Fa sanuyassiruhụ lil-yusraa. (8) Wa ammaa mam bakhila wastagnaa. (9) Wa każżaba bil-ḥusnaa. (10) Fa sanuyassiruhụ lil-‘usraa. Artinya: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, (6) Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), (7) Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (8) Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, (9) Serta mendustakan pahala terbaik, (10) Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
8. Rasulullah ﷺ menyuruh kita untuk beramal yang baik, karena setiap orang akan dipermudah berdasarkan amalannya
Allah sudah menentukan semuanya, karena Allah itu Maha Mengetahui. Sudah menjadi kewajaran bahwa Tuhan itu Maha segalanya. Allah Maha Tahu dan Maha Menentukan. Maka ketika para sahabat menanyakan pertanyaan manusia, maka Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa manusia akan dipermudah berdasarkan amalnya masing-masing. Bagi orang yang berbuat baik, ia akan dipermudah untuk menuju jalan kebaikan. Maka tetap ada free will di sini. Kalau manusia memilih jalan yang baik, maka akan dipermudah kepada kebaikan. Kalau ada manusia yang memilih jalan yang buruk, maka ia akan dipermudah untuk menuju keburukan.
9. Kebingungan tentang takdir seringkali muncul saat manusia mencampurkan antara yang menjadi ranah-Nya Allah dengan ranahnya manusia
Contoh: Dalam konsep manusia, waktu itu berjalan maju, tidak mungkin mundur. Yang sudah berlalu akan ada di belakang. Yang sekarang terjadi ya ada di masa sekarang. Di depan ada masa depan (future). Ini adalah konsep waktu pada manusia. Konsep waktu ini tidak bisa kita terapkan pada Allah. Analoginya seperti kita yang makhluk 3 dimensi berusaha menjelaskan konsep waktu kita kepada makhluk 2 dimensi. Demikian juga saat kita bermain salah satu game. Di game tersebut ada konsep waktunya. Konsep waktu kita dengan konsep waktu karakter yang ada di game tersebut berbeda. Jadi, Allah itu Maha segala-galanya, sedangkan kita tidak tahu.
10. Kisah seorang maling yang dihukum potong tangan karena mencuri oleh seorang hakim
Sebelum dihukum, maling itu berusaha membela dirinya. Maling itu berkata, “Pak Hakim percaya atau tidak kalau Allah itu Maha Tahu?” Hakim menjawab, “Iya saya percaya.” Maling itu berkata lagi, “Maka Allah pasti sudah tahu kalau saya akan mencuri, karena Allah sudah tahu, maka artinya Allah sudah menyetujui kalau saya mencuri barang itu. Hal ini juga tidak bisa saya pilih, karena semua sudah tertulis di lauhul mahfudz. Jadi ini bukan terjadi karena kehendak saya.” Hakim malahan menyuruh seorang algojo untuk segera memotong tangan maling tersebut. Maling bertanya kepada hakim, “Kenapa tangan saya malah dipotong Pak Hakim?” Hakim menjawab, “Kejadian itu pasti sudah Allah ketahui. Jadi ini adalah kehendak dari Allah untuk memotong tanganmu, bukan kehendak dari saya. Ini semua juga sudah tertulis di lauhul mahfudz.” Dalam kisah ini logika yang salah dibalas dengan logika yang salah juga. Ketika ada orang yang menggunakan logika yang salah dengan menarik Allah dalam ranahnya manusia, maka akan terjadi kebingungan. Karena Allah berada di level yang berbeda dengan manusia. Para ulama berkata, “Pengetahuan Allah tidak memaksa kita untuk melakukan seperti itu, karena Allah Maha Tahu, sedangkan kita sebagai manusia tidak tahu.” Oleh karena itu makanya kita diminta untuk beriman saja kepada qada dan qadar. Keimanan ini akan membantu kita untuk menyelesaikan masalah manusia. Kapan harapan ditarik kepada realitas dan kapan realitas yang harus ditarik kepada harapan.
11. Qada itu terjadi di wilayah dimana realitasnya tidak bisa diubah
Semua manusia pasti mati. Kita tidak boleh mempertanyakan takdir Allah ini. Contoh: Saat ada salah seorang anggota keluarga kita yang baru saja meninggal dunia, lalu ada salah satu anggota keluarga yang berkata, “Andai dia dibawa lebih cepat ke dokter. Andai dokternya lebih kompeten. Andai dia dirujuk ke RS yang lebih baik.” Ini adalah andai yang tidak diperbolehkan. Ini semua sudah terjadi dan tidak bisa diubah. Yang bisa kita lakukan adalah menarik harapan ke realitas. Anggota keluarga yang sudah meninggal itu adalah sebuah realitas. Maka kita harus menarik harapan ke realitas. Kita harus menerima takdir ini dengan qanaah. “Ya Allah ini semua datangnya dari Engkau, maka aku beriman kepada takdir-Mu. Aku beriman kepada semua hal yang tidak bisa aku pilih realitasnya.” Contoh takdir: Bentuk hidung, bentuk mata, tempat kelahiran. Beriman kepada takdir Allah adalah beriman kepada yang sudah Allah tentukan dan tidak bisa kita ubah lagi. Kecuali ada sesuatu yang bisa kita lakukan sebelum kejadian itu terjadi. Contoh: Membuat kolom bangunan yang ukurannya tidak memadai pada sebuah bangunan bertingkat, sehingga bangunan itu akhirnya runtuh dan memakan banyak korban jiwa. Orang yang membangun dengan cara seperti ini tidak boleh berkelit dengan mengatakan bahwa ini semua sudah takdir dari Allah, sehingga ia tidak mau dimintai pertanggungjawaban atas kesalahannya. Jadi sebuah kejadian bisa jadi adalah suatu takdir bagi seseorang, tetapi bisa juga jadi pilihan bagi orang yang lain.
12. Tidak ada takdir buruk
Yang ada adalah manusia yang memaknai itu sebagai sesuatu yang buruk. Ketentuan Allah itu semuanya baik. Makanya kalau kita menemukan suatu takdir yang menurut kita baik, maka disikapi dengan bersyukur dan mengucapkan: Alhamdulillahi-lladzi bi ni’matihi tatimmush-shalihaat. Artinya: “Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih sempurna.” Sedangkan saat kita mengalami sesuatu yang menurut kita buruk, maka kita ucapkan: Alhamdulillah ala kulli hal (الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ) Artinya: “Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.” Tidak ada takdir yang buruk. Semua tergantung dari cara kita menyikapinya. Semua takdir itu adalah ujian bagi kita. Tergantung bagaimana cara kita menjawab ujian tersebut.
13. Dalam hidup kita ada yang bisa kita ubah dan ada yang tidak bisa kita ubah
Yang masih bisa kita ubah jangan disebut sebagai takdir dulu, jangan sampai kita menyerah dulu di sini. Tetapi kalau kita sudah tidak kuasa lagi berusaha, maka semua kita serahkan kepada Allah. Ini disebut bertawakal kepada Allah. Contoh: Sebelum terjadi bencana ekologis di Sumatra sebenarnya pemerintah sudah mendapatkan peringatan dini dari BMKG. Di ranah ini pemerintah sebenarnya bisa melakukan sesuatu untuk mengambil langkah strategis mengantisipasi terjadinya bencana tersebut. Maka saat sudah terjadi bencana, pemerintah seharusnya tidak mengatakan ini sudah qadarullah, sudah takdir dari Allah, dan tidak bisa dilakukan apa-apa. Tetapi bagi korban bencana ekologis di Sumatra, maka mereka boleh mengatakan ini adalah qadarullah, karena mereka tidak mengetahui informasi dari BMKG tersebut. Jadi dalam satu kejadian ini bisa menjadi takdir yang tidak bisa diubah bagi seseorang, tetapi ada yang bukan, karena bagi orang ini sebelumnya ia masih bisa mengubah hal tersebut.
14. Permasalahan orang-orang di dunia Barat adalah merasa bahwa semua hal berada dalam kontrolnya, sehingga jika gagal mereka akan merasa stres
Akan tetapi kalau berhasil, maka ini juga jadi masalah, karena ia akan menepuk dada dan mengatakan bahwa semua hal bisa terjadi karena usahanya. Maka yang muncul adalah rasa sombong dan bukan rasa rendah hati (humble). Sebaliknya orang di wilayah Timur kalau gagal mereka akan menyalahkan orang lain. Agama Islam menyelesaikan semua permasalahan ini. Analoginya seperti kita menarik panah. Menurut para ulama, “Menarik anak panah sampai ke ujung adalah sebuah amal, dan kita akan dihisab berdasarkan hal ini. Ketika kita sudah melepaskan anak panah, maka kalau kena, ucapkan Alhamdulillah. Ketika tidak kena, maka kita juga mengucapkan Alhamdulillah. Kalau kena pahalanya seperti memerdekakan budak. Kalau tidak kena, pahalanya juga seperti memerdekakan budak.” Yang penting kita sudah berusaha, hasilnya bukan lagi urusan kita.
15. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya ujian itu ada pada pukulan yang pertama.”
Jadi jawaban kita yang pertama kali terucap saat menerima ujian dari Allah itulah yang akan diperhitungkan nanti di hari akhir. Jadi kita memang harus terus latihan untuk menghadapi ujian dari Allah. Analoginya seperti orang yang latihan fitness. Efeknya tidak akan dirasakan pada saat sedang latihan. Efeknya akan terasa saat kita sudah tidak lagi latihan. Pada saat kita jatuh, maka yang rusak adalah otot kita dan bukan tulang kita. Demikian juga ibadah sholat dan puasa itu adalah latihan. Kapan praktiknya? Saat nanti kita mengalami kecelakaan non-fisik. Latihan fisik berguna saat kita mengalami kecelakaan fisik. Latihan non-fisik berguna saat kita mengalami kecelakaan non-fisik. Latihan non-fisiknya adalah saat kita menyerahkan semua takdir yang kita terima kepada Allah. Kita bukanlah siapa-siapa. Kita tidak lagi mempertanyakan saat mengalami ujian, “Kenapa harus aku?” Kita dipilih Allah untuk menerima ujian ini karena kita dinilai oleh Allah akan bisa melewatinya. Sesederhana itu. Kita akan memiliki sikap mental yang berbeda. Saat berhasil kita tidak akan menepuk dada, dan saat mengalami kegagalan, kita tidak akan menyalahkan diri kita sendiri. Ini karena kita sudah punya tujuan dalam hidup.
Semoga bermanfaat. Mohon maaf dan juga mohon koreksi jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum. Barakallahu fikum.
Note: Mohon untuk menonton juga video lengkap podcast yang ada di link YouTube di atas.