Susahnya Beriman kepada Qada dan Qadar (Part 2)
Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw membahas beriman kepada Qada dan Qadar dalam podcast Putar Balik episode 8.
Podcast: Pandji Pragiwaksono & Ustadz Felix Siauw
Tanggal: 28-01-2026
Sumber: YouTube
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 8 ini Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw kembali membahas tentang beriman kepada Qada dan Qadar. Ada beberapa hal menarik yang dibahas dalam podcast ini, sebagai berikut:
1. Kesehatan fisik, mental dan spiritual
Dalam show Mens Rea, Pandji menyoroti masyarakat Indonesia yang tidak bisa membedakan antara kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Hal ini menyebabkan orang yang sebenarnya memiliki masalah dalam kesehatan mental, tetapi diselesaikan secara spiritual. Tetapi akhirnya Pandji dapat memahami hal ini karena di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa pemahaman yang benar tentang qada (ketentuan Allah) dapat membantu seseorang terhindar dari depresi. Ini karena mereka belajar untuk menerima hal-hal yang berada di luar kendalinya.
2. Bagaimana cara Rasulullah ﷺ menanggapi permasalahan qada?
Pada saat Perang Uhud, Rasulullah ﷺ kehilangan 72 orang sahabatnya, termasuk kehilangan paman yang sangat dicintainya, yaitu Hamzah ra. Hamzah ra. dibunuh dari belakang (ditombak) oleh seorang pembunuh bayaran bernama Wahsyi yang disewa oleh Hindun. Setelah Hamzah ra. wafat, jantungnya diambil lalu dikunyah oleh Hindun untuk membalaskan dendamnya atas kematian saudaranya yang dibunuh oleh Hamzah ra. Wahsyi dan Hindun akhirnya masuk Islam. Meskipun merasa sangat sedih, Rasulullah ﷺ menunjukkan sikap memaafkan Wahsyi dan Hindun, tetapi meminta mereka tidak menunjukkan wajahnya di depan Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa manusiawi jika kita tidak bisa melepaskan diri dari emosi yang dirasakan, akan tetapi agama Islam juga mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak bisa mengontrol semuanya.
3. Teguran dan hiburan untuk Nabi Muhammad ﷺ
Rasulullah ﷺ pernah ditegur oleh Allah di dalam Al-Qur’an ketika merasa in control. Hal ini terjadi saat pamannya yang lain (Abu Thalib) wafat dalam keadaan belum masuk Islam. Ini adalah paman yang sangat disayangi oleh Rasulullah ﷺ karena selalu menjaga dan melindungi beliau setelah kakeknya wafat. Allah menurunkan Surat Al-Qashash ayat 56 yang menegaskan bahwa hidayah adalah hak prerogatif dari Allah, bukan tanggung jawab dari Nabi Muhammad ﷺ. Ini menjadi pengingat bahwa kita tidak perlu merasa gagal atas hal yang di luar kekuasaan kita.
4. Surat Al-Qashash ayat 56
Innaka laa tahdii man aḥbabta wa laakinnallaaha yahdii may yasyaa`, wa huwa a’lamu bil-muhtadiin.
Artinya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
5. Makna bekerja dan rezeki
Yang membuat manusia merasa stres itu bukan yang Allah kadarkan kepada manusia, tetapi tujuan hidup yang salah. Ketika seseorang bekerja untuk mencari uang, maka ia akan kecewa ketika uang yang didapatkan tidak sama dengan yang ia harapkan. Ini karena tujuan dia bekerja adalah untuk mendapatkan uang. Padahal seharusnya tujuan bekerja di dalam agama Islam adalah untuk bersyukur, bukan untuk mencari rezeki. Allah memerintahkan Nabi Daud as. untuk bekerja sebagai tanda syukur kepada-Nya. Kita bersyukur kepada Allah atas segala potensi yang diberikan oleh Allah kepada kita (diberikan tangan, otak, tenaga). Rezeki adalah urusan Allah yang tidak selalu berbanding lurus dengan kerasnya usaha kita. Ini agar manusia tidak merasa stres dan sedih saat hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Orang Islam akan bekerja sungguh-sungguh karena ia ingin bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Allah. Ia tahu jika ia banyak bersyukur, maka Allah akan memberikan banyak kebaikan kepadanya. Ia juga tahu bahwa Allah tidak akan mematikan dia sebelum rezekinya habis. Tetapi ini juga bukan menjadi alasan bagi umat Islam untuk malas bekerja.
6. Menghadapi kesedihan dan qadar
Ada kasus seorang perempuan yang hidupnya penuh dengan kesedihan. Ia diselingkuhi oleh suaminya, tidak bisa punya anak, dibenci mertuanya, sampai akhirnya harus bercerai dari suaminya. Setelah bercerai tidak ada laki-laki yang mau sama dia karena masalah usia. Hal ini membuat ia merasa makin terpuruk. Kenapa kesedihannya tidak habis-habis? Kalau memang ia harus beriman kepada qadar yang diberikan oleh Allah, tetapi kenapa ia tidak memiliki kuasa untuk merubah keadaan ini? Padahal ia ingin berjuang atas hidupnya, tetapi tetap tidak bisa merubah qadar dalam hidupnya.
Menurut ustadz Felix, bagi orang-orang yang sudah berusaha secara maksimal, tetapi tidak mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan, maka ia bisa mengambil pendekatan yang lain. Bisa saja ini adalah cara yang diberikan oleh Allah agar ia bisa masuk surga melalui pintu kesabaran. Ada orang yang masuk surga lewat pintu sholat, pintu puasa, atau pintu membaca Al-Qur’an. Tetapi ada juga orang yang tidak memenuhi syarat untuk masuk surga dari pintu-pintu tersebut. Akhirnya Allah berikan ia kesempatan untuk masuk surga lewat pintu sabar dan menerima ketentuan dari Allah.
7. Kisah seorang perempuan berkulit hitam yang menderita penyakit epilepsi di zaman Rasulullah ﷺ
Ia meminta didoakan oleh Rasulullah ﷺ agar tidak lagi menderita penyakit tersebut. Rasulullah ﷺ berkata kepada perempuan tersebut, “Aku bisa mendoakan agar penyakit itu hilang dari dirimu, tetapi boleh atau tidak aku menawarkan pilihan kedua. Kalau kamu bersabar, maka kamu bisa masuk surga karena itu.” Perempuan itu berkata, “Aku memilih pilihan yang kedua. Tetapi tolong doakan aku ya rasulullah, agar saat penyakit epilepsi itu muncul tidak tersingkap auratku.” Perempuan itu berpikir bisa saja ia sembuh, tetapi belum tentu ia akan mendapatkan surga nanti di akhirat. Jadi ia lebih memilih untuk bersabar atas penyakitnya agar bisa mendapatkan surga di akhirat.
8. Ketidakberimanan kepada qada dan qadar bisa menggagalkan keimanan kepada rukun iman yang lainnya
Menurut Pandji, ketidakberimanan kita kepada qada dan qadar bisa saja jadi menggagalkan keimanan kita kepada rukun iman yang lainnya. Bahkan ada banyak orang yang menjadi ateis karena ketidakmampuan beriman kepada qada dan qadar-Nya Allah. Mereka jadi tidak beriman kepada Allah, karena melihat ada banyak penderitaan di dunia ini. Contoh: Mereka berkata, “Kalau Allah itu ada, kenapa ada kejadian yang mengerikan di Palestina? Kenapa banyak terjadi kelaparan di Afrika? Kenapa para koruptor kelihatan hidup bahagia sampai akhir hayatnya?” Ada banyak orang yang mempertanyakan hal-hal yang kelihatan tidak masuk akal di sekitarnya, karena mereka tidak beriman kepada qada dan qadar.
9. Menerima hal-hal yang tidak bisa kita pilih
Dalam agama Islam yang pertama itu kita harus bisa menerima dulu hal-hal yang tidak bisa kita pilih, karena itu adalah ketentuan dari Allah. Cara paling mudah untuk mengetahui bahwa Allah rida dengan kita adalah dengan rida dengan ketentuan Allah, walaupun mungkin sulit bagi kita untuk menerima kondisi tersebut. Seringkali kita merasa putus asa ketika melihat kondisi di Palestina. Sedangkan para ibu di Palestina bisa mengucapkan Alhamdulillah ketika mereka kehilangan anak-anaknya. Mereka berdoa kepada Allah agar yang keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang diridai oleh Allah. Jangan sampai ia mengucapkan sesuatu yang tidak Allah ridai. Mereka telah kehilangan segalanya, tetapi tetap bisa bersyukur dan rida kepada takdir dari Allah. Sedangkan kita di sini yang memiliki segalanya, tetapi malah sulit untuk bisa bersyukur kepada Allah.
Berikut kata-kata yang tidak diridai oleh Allah: Kenapa hal ini terjadi pada kami? Mengapa seluruh dunia diam melihat yang terjadi pada kami? Bagi orang-orang yang mendapatkan musibah, maka ia seharusnya bersabar atas ujian dari Allah. Yang terjadi di Palestina saat ini adalah show terbesar di dunia. Karena ada banyak orang yang dapat memetik pelajaran dari sikap dan perilaku orang di Palestina. Kita yang awalnya mungkin merasa stres, jadi malu karena masalah mereka jauh lebih besar daripada masalah kita. Mereka punya banyak masalah, tetapi tetap bisa bertahan.
10. Tetap kuat mengejar prestasi
Agama Islam mengajarkan agar kita bisa tetap kuat mengejar prestasi, karena yang kita kejar bukan dunia. Tetapi ini sebagai cara kita untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah. Mau mendapatkan hasil berapa pun, kita akan tetap mengusahakan yang terbaik. Ketika kita berbuat kebaikan kepada orang lain, yang kita harapkan itu bukan efeknya, tetapi ini adalah cara kita bersyukur kepada Allah. Seorang muslim bisa menjadi orang yang kreatif pada suatu titik, dan menjadi orang yang sangat berserah pada titik yang lain.
11. Pengajian sebagai cara make sense terhadap qada dan qadar
Menurut Pandji, bagi beberapa orang yang mendatangi pengajian, maka ini adalah salah satu cara bagi mereka untuk bisa make sense terhadap qada dan qadar yang diterimanya. Contoh: Pada saat ada seorang istri yang diselingkuhi oleh suaminya, lalu ia mengadu kepada ustadz di pengajian yang didatanginya. Menurut ustadz Felix, kalau ia yang ditanya apa yang harus dilakukan oleh si istri tersebut, maka ia akan bertanya balik, “Apa yang berada di dalam kontrol kamu yang masih bisa dilakukan?“
12. Pentingnya kebijaksanaan (wisdom)
Ustadz Felix menekankan pentingnya kemampuan untuk bisa membedakan mana yang merupakan takdir yang harus diterima dan mana yang merupakan hasil pilihan/kesalahan manusia yang masih bisa diubah. Ustadz Felix menegaskan bahwa tidak ada kesabaran dalam kezaliman. Jika seseorang dizalimi, maka ia harus bertindak, bukan sekadar pasrah atas nama takdir. Ini adalah musibah yang dibuat oleh manusia. Orang yang hanya pasrah saja saat dizalimi adalah orang yang bodoh, maka ia perlu ilmu. Itulah pentingnya kita berbicara kepada ulama yang berilmu. Ulama itu tugasnya adalah memberikan ilmu kepada orang yang datang kepadanya, sehingga ia bisa mengetahui mana yang termasuk takdir dan mana yang masih bisa diusahakan.
13. Doa memohon kebijaksanaan dari Allah
“Ya Allah, aku memohon kekuatan untuk mengubah apa yang bisa diubah, kesabaran untuk menerima yang tidak bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk dapat membedakan keduanya.”
Semoga bermanfaat. Mohon maaf dan juga mohon koreksi jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum. Barakallahu fikum.
Note: Mohon untuk menonton juga video lengkap podcast yang ada di link YouTube di atas.