Podcast: Pandji Pragiwaksono & Ustadz Felix Siauw
Sumber: YouTube

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 28 ini, Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw kembali membahas kesehatan mental ala Islam. Ada beberapa hal menarik yang dibahas dalam podcast ini, sebagai berikut:

1. Perspektif Islam tentang kondisi dasar manusia

  • Surat Al-Ma’arij ayat 19: Innal-insāna khuliqa halụ’aa. Artinya: Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
  • Secara alamiah (default), manusia diciptakan dalam keadaan tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri. Halu’aa adalah ketakutan terhadap sesuatu yang belum terjadi dan ketidakpuasan terhadap sesuatu yang telah terjadi (rentan terhadap kecemasan, kebingungan, dan rasa takut).
  • Agama Islam hadir untuk memberikan arah untuk membantu manusia melatih dan mengendalikan pikirannya. Jadi, Agama Islam itu sangat memperhatikan masalah kesehatan mental.

2. Kenapa kita sulit untuk diet?

Karena pikiran manusia memandang bahwa memiliki banyak cadangan makanan itu baik untuk bertahan hidup (survive).

3. Koneksi antara pikiran dan tubuh

  • Stres akibat banyak pikiran dan kondisi mental tertentu dapat memicu respons atau gejala fisik pada tubuh (psikosomatis).
  • Ketika seseorang berbohong, hal itu akan tampak dari microexpression yang ia tunjukkan di wajahnya. Hal ini bisa diukur menggunakan alat lie detector. Dalam ilmu bela diri dikatakan bahwa kalau ada orang yang berbohong, maka sudah pasti ia adalah orang yang lemah. Tampak dari badannya tidak seimbang (not balanced). Makanya, orang yang niatnya tulus ketika berjihad di jalan Allah, badannya akan kuat.
  • Dalam ajaran Islam, perintah ibadah menyatukan kondisi mental (mental condition) dan aktivitas fisik, yang membuktikan eratnya keterkaitan antara tubuh (body) dan pikiran (mind). Contoh: Saat seorang Muslim berpuasa, ia akan menjadi lebih kuat. Saat seorang Muslim selesai mengerjakan sholat, maka ia akan dapat menahan diri dari perbuatan keji dan munkar.

4. Pengalaman depresi dan overthinking

  • Pandji membagikan pengalaman pribadinya dalam menghadapi rasa bersalah (sering menyalahkan diri sendiri) dan mengalami otak bising (pikiran yang terus-menerus menumpuk hingga memicu fatigue, dan menjadi overthinking).
  • Gejala depresi dapat berdampak serius hingga membuat seseorang kesulitan dalam menjalankan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ada orang yang karena merasa sangat depresi sampai executive function-nya tidak bisa bekerja dan kamarnya dipenuhi sampah (hoarding).

5. Bagaimana cara mengatasi tekanan mental dalam Islam?

  • Mengenali dan mengakui perasaan. Langkah awal adalah mengidentifikasi dan menerima emosi yang dirasakan (sedih, marah, cemas) tanpa melakukan penyangkalan (denial). Kalau masih ada penyangkalan, maka akan merasa sedih lagi. Lalu kaitkan dengan Allah. Apa yang Allah mau kita lakukan?
  • Memisahkan hal yang bisa dan tidak bisa dikontrol. Fokus pada hal-hal yang berada di bawah kendali diri sendiri. Kalau berada di luar kontrol, maka tidak perlu terlalu dipikirkan. Untuk bisa mengontrol pikiran (terhadap yang masih dalam kontrol kita), harus berlatih. Untuk bisa mengontrol, pertama kita harus bisa menerima bahwa kita diciptakan dalam kondisi tidak bisa mengontrol pikiran kita terlebih dahulu. Maka diturunkanlah agama Islam. Orang-orang yang in control adalah orang-orang yang mampu tetap beraktivitas dalam keadaan sedih. Contoh: Rasulullah ﷺ bersedih dan menangis saat kehilangan orang terdekatnya, tetapi beliau tetap melakukan hal-hal yang diperintahkan Allah untuk dilakukan.
  • Kita berada di dunia yang mengagungkan kebahagiaan. Padahal secara sains, otak itu seharusnya tidak berada dalam kondisi bahagia. Kita perlu kebosanan dan ancaman agar kita terus-menerus berkembang. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa ketika berada dalam keadaan yang baik, manusia merasa bahwa hal itu tidak boleh hilang (preventing). Ada rasa memiliki yang kuat (sense of entitlement). Solusi untuk mengatasi perasaan ini adalah dengan mengerjakan shalat yang diiringi dengan membantu orang lain dan dilakukan secara konsisten.
  • Berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal Psikologi, ternyata perasaan yang paling berguna bagi diri kita adalah kesedihan (sadness). Perasaan sedih ini membuat kita menyadari bahwa kita terbatas dan tidak bisa menguasai semuanya. Kita membutuhkan bantuan dari orang lain.

6. Gangguan skizofrenia dan ketempelan jin

Bagaimana cara membedakan orang yang mengalami gangguan skizofrenia dengan orang yang ketempelan jin (sesuatu yang tidak terlihat)? Sebaiknya ditangani dengan pendekatan medis terlebih dahulu, misalnya dengan minum obat. Kalau tidak bisa sembuh, dan masih melihat penampakan, maka baru digunakan pendekatan yang lain (misalnya pendekatan agama).

7. Sinergi medis dan spiritual

Penanganan melalui psikiater/psikolog (termasuk penggunaan obat jika diperlukan) dan pendekatan spiritual bukanlah hal yang bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan secara sinergis.

8. Pentingnya logika dan sebab-akibat

  • Menghindari kebiasaan untuk mengaitkan semua keluhan fisik/mental secara langsung dengan hal mistis; hendaknya mengutamakan pemeriksaan medis dan logika hukum sebab-akibat. Contoh: Dompet hilang karena kurang sedekah. Padahal pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah: Kapan terakhir kali ia melihat dompetnya masih ada? Kalau sakit perut, maka kita pergi ke dokter dulu, bukan menganggap ada jin di perut kita. Contoh lain: Saat terjadi kesurupan, ditangani secara medis terlebih dahulu. Agama Islam itu untuk mengetes keyakinan seseorang itu benar atau tidak.
  • Dalam Islam, tawakal yang benar adalah dengan mengoptimalkan usaha nyata (sebab-akibat) secara maksimal dalam urusan duniawi. Contoh: Rasulullah ﷺ mengenakan dua lapis baju zirah saat mau berangkat ke Perang Badar. Rasulullah ﷺ juga mengatur urusan ekonomi agar kehidupan umatnya baik.
  • Kalau seseorang yakin bahwa Allah akan memberikan rezeki kepadanya, maka ia akan berusaha secara maksimal.

9. Kesehatan mental membutuhkan latihan rutin

Kekuatan mental dimisalkan seperti kekuatan fisik. Sebagaimana tubuh memerlukan latihan kebugaran secara konsisten, mental juga perlu dilatih secara berkala agar tidak kembali ke keadaan dasarnya yang lemah. Agar mental kita kuat, kita harus terus “push up” mental.


Semoga bermanfaat. Mohon maaf dan juga mohon koreksi jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum. Barakallahu fikum.

Note: Mohon untuk menonton juga video lengkap podcast yang ada di link YouTube di atas.

#PandjiPragiwaksono #FelixSiauw #PutarBalik #Putbal #islamic #MentalHealth

Ditulis oleh: Fanny Angelia