Podcast: Pandji Pragiwaksono & Ustadz Felix Siauw
Sumber: YouTube
Artikel Asli: Blogspot
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 24 ini, Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw kembali membahas tauhid. Ada beberapa hal menarik yang dibahas dalam podcast ini, sebagai berikut:
1. Berikut tiga pembagian tauhid berdasarkan golongan Atsariyah:
-
Tauhid Rububiyah. Berasal dari kata Rabb, yang artinya menjadikan Allah sebagai pencipta, pengatur, dan pemelihara. Di level ini, kita percaya penuh bahwa pencipta kita adalah Allah dan segala hal yang terjadi adalah karena-Nya.
-
Tauhid Uluhiyah. Mengilahkan Allah (menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang wajib ditaati). Ini berkaitan langsung dengan pelaksanaan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dicontohkan bahwa tauhid uluhiyah tercermin ketika seseorang menjadikan ridha Allah sebagai pertimbangan utama dan latar depan (foreground) dalam setiap keputusan hidupnya. Contoh: Saat Allah “mengambil” anak kita, kita ridha terhadap takdir Allah. Kalau Allah ingin memberikan kita sesuatu, maka tidak akan ada seorang pun yang bisa menahannya, maka bertakwalah kepada Allah. Tentunya tanpa meninggalkan hukum sebab-akibat. Tetap memberikan usaha yang terbaik.
-
Tauhid Asma wa Sifat. Berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah (seperti di mana Allah berada, atau bagaimana sifat-sifat-Nya dimaknai secara metafora maupun tekstual). Di Indonesia, pembahasan ini kerap memicu perdebatan teologis antara dua golongan (seperti Asy’ariyah dan Atsariyah) mengenai sifat-sifat Allah, meskipun tujuannya sama-sama untuk menyucikan Allah. Ketika menjawab pertanyaan, “Di mana Allah?” Ada yang menjawab bahwa Allah bersemayam di Arsy. Ini adalah jawaban dari golongan Atsariyah. Ada juga yang menjawab bahwa Allah itu dekat, walaupun Allah berbeda dimensi dengan manusia. Ini adalah jawaban dari golongan Asy’ariyah. Pendapat ini berasal dari seorang ulama, Abu al-Hasan al-Asy’ari. Menurut beliau, Allah berada di “tempat” yang tidak seperti manusia pikirkan. Karena Allah tidak bertempat seperti manusia. Allah adalah pencipta, sedangkan manusia adalah ciptaan-Nya. Berbeda dimensinya. Analogi yang bisa digunakan untuk memudahkan penjelasan di zaman sekarang adalah seperti kita sedang bermain game dua dimensi. Kalau NPC (karakter dalam permainan) itu bertanya kepada kita yang sedang bermain game, kita bisa menjawab bahwa kita dekat dengan mereka. Tetapi kita tidak berada di dalam peta permainan mereka karena sedang duduk di sofa. Mereka tidak bisa membayangkan sofa yang sedang kita duduki itu seperti apa karena mereka makhluk dua dimensi. Agak sulit menjelaskan posisi kita yang tiga dimensi kepada karakter yang dua dimensi. Aliran Asy’ariyah mengatakan bahwa Allah tidak bertempat seperti manusia. Manusia itu ciptaan, sedangkan Allah adalah pencipta. Jadi, tidak ada gunanya membahas tempat-Nya Allah. Ketika ada ayat Al-Qur’an yang menyatakan Allah bersemayam di atas Arasy, hal ini berarti Allah memiliki kekuasaan di atas apa pun. Ketika ada ayat yang mengatakan “tangan” Allah, maka itu diartikan kekuasaan Allah, “wajah” artinya keridhaan Allah, sedangkan Arsy adalah kerajaan-Nya Allah. Ini adalah sesuatu yang bersifat metafora. Aliran Asy’ariyah ini dipakai oleh sebagian besar orang Islam di Indonesia. Contoh: NU (Mazhab Imam Syafi’i) dan Muhammadiyah. Akan tetapi, ada yang mengikuti golongan yang berbeda. Mereka memahami ayat Al-Qur’an secara tekstual, dan tidak mau menggunakan takwil. Menurut mereka, takwil itu adalah sesuatu yang dibuat-buat. Bagi mereka, Allah berada di atas Arasy. Tetapi, mereka tidak mau membahas di mana Arasy itu. Ini adalah aliran Atsariyah (Mazhab Imam Hambali). Kedua aliran ini sebenarnya tujuannya baik, ingin menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas. Contoh: Mereka tidak mau Allah disifati seperti manusia. Kalau Allah menempati ruang, berarti Allah terbatas. Keributan dari dua golongan di zaman dahulu membuat kondisi umat Islam menjadi lemah, sehingga kalah dalam Perang Salib.
2. Esensi bertauhid dalam kehidupan:
-
Tauhid bukan untuk diperdebatkan. Menjadikan Allah dan Rasulullah ﷺ di atas semuanya itu adalah tauhid yang benar. Mengajak debat kusir tentang teori tauhid sering kali justru menunjukkan ketidakpahaman terhadap hakikat tauhid itu sendiri. Tauhid adalah sesuatu untuk diyakini dan diamalkan, bukan sekadar teori verbal untuk diperdebatkan. Rasulullah ﷺ tidak pernah mengkafirkan orang karena berbuat maksiat. Sayangnya, sekarang ini ada orang Muslim yang mengkafirkan orang Muslim yang lain, hanya karena cara ibadahnya berbeda dengan yang mereka jalankan. Mereka merasa diri mereka adalah perwujudan dari Islam yang sebenarnya, sehingga orang yang berbeda dengan mereka dianggap bukan Islam. Padahal, ketika kita masuk Islam, rasa keakuannya seharusnya hilang. Allah mengajarkan kita untuk melihat orang Muslim yang lain dengan berbaik sangka. Contoh: Mungkin kita jauh lebih berdosa dibandingkan dengan orang Muslim lain yang ada di depan kita, sehingga kita tidak mengecilkan orang lain. Orang yang mengajak debat tauhid kemungkinan sedang pubertas dalam beragama Islam.
-
Menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan adalah tauhid. Tauhid diibaratkan seperti operating system (OS) pada komputer. Ketika OS (tauhid) tersebut sudah terpasang dengan benar, maka aplikasi lain seperti kesabaran, keikhlasan, dan penerimaan takdir dapat berjalan dengan baik di dalamnya.
-
Kombinasi kebenaran dan adab. Menyampaikan kebenaran harus selalu dikombinasikan dengan cara yang baik dan beradab (bagus) agar pesan tersebut dapat diterima dengan baik oleh orang lain yang kita dakwahi.
Semoga bermanfaat. Mohon maaf dan juga mohon koreksi jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum. Barakallahu fikum.
Note: Mohon untuk menonton juga video lengkap podcast yang ada di link Youtube di atas.
#PandjiPragiwaksono #FelixSiauw #PutarBalik #Putbal #islamic #faith #tauhid