Podcast: Pandji Pragiwaksono & Ustadz Felix Siauw
Sumber: YouTube
Artikel Asli: Blogspot

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 27 ini, Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw membahas kesehatan mental ala Islam. Ada beberapa hal menarik yang dibahas dalam podcast ini, sebagai berikut:

1. Pendekatan Rasulullah ﷺ terhadap kesehatan mental

Ustadz Felix menegaskan bahwa menganggap agama Islam hanya sekadar ritual adalah pemahaman yang keliru. Jika ada orang yang depresi atau mengalami masalah mental (mental issue) lalu hanya disuruh shalat tanpa mendengarkan atau memahami diagnosis masalahnya, maka hal itu tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ. Contoh: Rasulullah ﷺ mengunjungi seorang anak kecil bernama Abu Umair yang sedang sedih karena burung peliharaannya mati. Rasulullah ﷺ tidak menyalahkan kesedihan anak tersebut atau langsung menyuruhnya shalat. Rasulullah ﷺ hadir memberikan pendampingan (presence), duduk di sampingnya, dan mendengarkan kesedihannya secara bertahap.

2. Sejarah Psikologi dan Kesehatan Mental dalam Islam.

Panduan penanganan kesehatan mental dalam Islam sudah ditulis sejak abad ke-9 (tahun 800–900-an) oleh ilmuwan Muslim bernama Abu Zaid al-Balkhi. Beliau mengategorikan gangguan kesehatan mental dan memberikan prinsip penanganannya sebagai berikut:

  • Masalah psikologis & sosial (penyebab dari luar): Penanganannya dilakukan dengan cara komunikasi/konseling (diajak ngobrol) untuk mengubah cara pandang (perspective shift). Contoh: Pada saat mengalami kesedihan setelah kematian putranya Ibrahim, Rasulullah ﷺ mengakui bahwa beliau bersedih, tetapi beliau tetap berdoa kepada Allah agar lisannya hanya mengeluarkan kata-kata yang Allah ridhai. Saat itu tidak ada sahabat beliau yang berani mengajak ngobrol. Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya, “Tidak apa-apa kalau kita mau menangis ketika ada kematian orang yang kita sayangi.” Setelah itu turun Surat Al-Kautsar. Seolah-olah Allah ingin mengubah cara pandang Rasulullah ﷺ dari melihat yang hilang menjadi melihat yang masih ada. Ini sama dengan pendekatan konseling saat ini. Allah juga memberikan Telaga Kautsar kepada Rasulullah ﷺ, di mana Rasulullah ﷺ bisa memberikan syafaat kepada seluruh umatnya. Artinya, umat Islam adalah “anak-anak ideologis” dari Rasulullah ﷺ. Sedangkan Ibrahim, anaknya yang meninggal dunia adalah anak secara biologis.
  • Masalah biologis/hormonal (penyebab dari dalam). Dahulu ada pemahaman bahwa ada 4 cairan di dalam tubuh yang mengendalikan manusia, yang kalau tidak seimbang akan menyebabkan seseorang sakit. Teori ini menjadi dasar pembagian 4 kepribadian manusia berdasarkan cairan tubuhnya (sanguin, koleris, melankolis, dan plegmatis). Al-Balkhi menyebutkan bahwa ada ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh manusia. Penanganannya tidak bisa sekadar diajak ngobrol, melainkan butuh intervensi fisik atau pengobatan untuk fisiknya. Jadi, di masa itu sudah ada perbedaan penanganan antara psikiater (menggunakan obat) dan psikolog (tidak menggunakan obat). Saat Rasulullah ﷺ sedih, biasanya dibuatkan makanan seperti talbinah (makanan sejenis bubur dari tepung gandum) oleh Bunda Aisyah yang terbukti memberikan rasa tenang dan kebahagiaan secara fisik. Bunda Aisyah belajar ilmu kedokteran dari para dokter yang mengobati Rasulullah ﷺ. Sejak abad ke-16 (sekitar 1500-an M), peradaban Islam sudah memiliki rumah sakit jiwa dengan terapi aroma (essential oil), terapi suara air, hingga terapi musik yang disesuaikan dengan kondisi emosional pasien.

3. Pentingnya berobat dan peran ilmu kedokteran.

Pandji menyimpulkan bahwa pergi ke psikolog atau psikiater sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam atau menandakan kurangnya iman. Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ apakah ia harus pergi ke dokter saat sakit. Rasulullah bersabda, “Carilah pertolongan/obat, karena Allah tidak menurunkan penyakit tanpa menyediakan obatnya.” Jadi tinggal kita berusaha untuk menemukan obatnya. Rasulullah ﷺ merekonstruksi perilaku-perilaku yang tidak masuk akal dalam proses penyembuhan orang yang mengalami gangguan mental**. Contoh perilaku yang salah:** Ada orang yang mengalami gangguan mental dianggap kurang shalat, lalu disuruh lebih rajin shalat atau dirukiyah.

4. Pandji menyimpulkan bahwa sebaiknya kita tidak hanya belajar ilmu agama saja, karena ilmu yang lain juga penting dan semua berasal dari Allah.

Ketidaktersediaan ilmu lain dalam perbendaharaan pemikiran seseorang dapat membuat solusi masalahnya menjadi sempit. Maka bersyukurlah kalau ada orang yang memiliki jangkauan keilmuan yang cukup luas.

5. Imam Syafi’i berkata,

“Jangan tinggal di suatu daerah yang tidak ada ahli agama yang bisa memberikan solusi tentang agama dan dokter yang bisa memberitahu kondisi kesehatan.” Beliau juga membagi keilmuan menjadi tiga bagian, di mana sepertiganya adalah ilmu kedokteran/penyembuhan.

6. Ada sahabat Rasulullah ﷺ yang mencari ketenangan melalui shalat

Pada saat kita sujud kepada Allah dalam sholat, di mana kepala kita berada di bawah, maka dapat menimbulkan kondisi transendental. Kita akan merasa sangat dekat dengan Allah.

7. Kisah Abu Darda r.a. dan Salman Al-Farisi r.a.

Abu Darda pernah mengabaikan istrinya selama beberapa bulan dengan alasan ingin terus beribadah kepada Allah. Saat Salman datang ke rumah Abu Darda, ia melihat kondisi istri Abu Darda yang tidak merawat diri karena suaminya tidak memedulikan dirinya. Istri Abu Darda mengadukan hal ini kepada Salman. Salman kemudian menginap di rumah Abu Darda untuk mengingatkan sahabatnya. Salman berkata, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.” Jadi jangan mengira kalau kita shalat terus dan mengabaikan yang lain, maka kita akan dekat dengan Allah. Ini tidak benar, karena kita juga memiliki banyak tanggung jawab lain yang harus diurus.

8. Pengalaman Rasulullah ﷺ dan konseling Al-Qur’an

Rasulullah ﷺ sendiri pernah mengalami momen kesedihan yang sangat berat (amul huzni/tahun kesedihan) ketika kehilangan istri tercintanya, Bunda Khadijah, dan pamannya Abu Thalib. Allah menghibur dan merawat kesehatan emosional Rasulullah ﷺ melalui firman-Nya dalam surat Yusuf. Allah juga memberikan bimbingan kepada Rasulullah ﷺ setelah Perang Uhud agar tidak merasa sedih. Saat itu ada banyak sahabat yang gugur dan Rasulullah ﷺ juga terluka sangat parah. Perasaan Rasulullah bercampur aduk antara sedih karena banyak sahabat yang meninggal, termasuk pamannya Hamzah r.a., dan kesal karena pasukan pemanah tidak menuruti instruksinya yang menyebabkan kekalahan di pihak kaum muslimin. Lalu Allah menurunkan beberapa ayat di Surat Ali Imran untuk mengubah cara pandang dan menghibur Rasulullah ﷺ.

9. Surat Ali Imran ayat 159:

Fa bimaa raḥmatim minallaahi linta lahum, walau kunta faẓẓan galiiẓal-qalbi lanfaḍḍụ min ḥaulika fa’fu ‘an-hum wastagfir lahum wa syaawir-hum fil-amr, fa iżaa ‘azamta fa tawakkal ‘alallaah, innallaaha yuḥibbul-mutawakkiliin. Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Bersambung


Semoga bermanfaat. Mohon maaf dan juga mohon koreksi jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum. Barakallahu fikum.

Note: Mohon untuk menonton juga video lengkap podcast yang ada di link YouTube di atas.

#PandjiPragiwaksono #FelixSiauw #PutarBalik #Putbal #islamic #MentalHealth

Ditulis oleh: Fanny Angelia