Podcast: Pandji Pragiwaksono & Ustadz Felix Siauw
Sumber: YouTube Ep. 25
Sumber: YouTube Ep. 26
Artikel Asli: Blogspot
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 25 dan 26 ini, Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw kembali membahas cara mengajarkan atau memperkenalkan agama Islam ke anak, di mana orang tuanya masih belum bisa menjadi contoh yang tepat. Ada beberapa hal menarik yang dibahas dalam podcast ini, sebagai berikut:
1. Apa yang menjadi tantangan bagi orang tua untuk mengajarkan agama Islam kepada anak?
Bagi Pandji, yang menjadi tantangan adalah anak-anaknya tumbuh di Amerika Serikat, di mana Islam bukan agama dominan. Kenapa harus beragama Islam? Saat ini anak perempuannya, Shira (Sani), sedang sangat menyukai dunia herbal dan ramuan obat. Perubahan minatnya terjadi dari tahun ke tahun, karena sebelumnya ia tertarik mempelajari biota laut dan dewa-dewa Yunani. Sementara anak laki-lakinya, Dipo, konsisten menyukai konsep worldbuilding dan speculative biology (seperti mendesain ekosistem planet di film atau game). Dari sini, Ustadz Felix menyimpulkan bahwa anak-anak Pandji mau belajar dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, tetapi bukan tentang agama Islam.
2. Mengapa anak remaja kurang tertarik pada agama Islam?
Ustadz Felix menjelaskan bahwa banyak anak remaja memandang belajar agama Islam tidak berguna. Sedangkan Pandji merasa bahwa anak remaja menganggap agama itu tidak keren (cool), lebih cocok untuk orang tua. Menurut Ustadz Felix, kebanyakan orang terjebak melihat Islam hanya sebatas aktivitas ibadah ritual (seperti sholat, puasa, dll.), padahal esensi utamanya adalah tentang pola pikir. Orang yang tidak mengerjakan sholat, tidak puasa, minum khamar, secara de jure masih Muslim, tetapi ia tidak mempraktikkan ritual ajaran agama Islam. Anak-anak tidak tertarik pada agama Islam karena merasa ritual tersebut tidak terlihat berguna atau memberikan manfaat langsung bagi kehidupan mereka saat ini. Kalau anak-anak bisa melihat Islam sebagai suatu pola pikir yang baik, maka mereka akan lebih tertarik untuk mempelajari agama Islam. Saat anak belajar tentang tanaman dan pengetahuannya itu bermanfaat bagi banyak orang lain, maka sebenarnya itu adalah pengetahuan yang islami. Ini adalah pola pikir yang islami. Sayangnya, saat ini ada pemisahan antara ilmu agama Islam dengan ilmu dunia, sehingga banyak orang tidak melihat bahwa belajar herbal itu sebenarnya bagian dari agama Islam. Orang yang belajar world building dengan tujuan untuk bisa menghibur orang lain, maka ini juga bagian dari agama Islam. Semua hal yang cocok untuk manusia dan bisa memberikan kebaikan, itu adalah bagian dari agama Islam, karena agama Islam mengatur semuanya. Kalau anak-anak bisa memahami hal ini, maka mereka akan lebih senang belajar agama Islam, karena merasa agama Islam itu berguna.
3. Pandji menyimpulkan: Pertama, walaupun ada orang-orang yang tidak menjalankan ritual agama Islam, ia masih seorang Muslim.
Orang itu bisa saja tidak sholat atau mengerjakan hal-hal yang tidak baik. Tetapi orang itu tetap bisa bertobat dan kembali kepada Allah. Jadi kita jangan menilai (judge) posisi orang lain saat ini, karena bisa saja ia akan berbalik kembali kepada Allah suatu hari nanti. Bahkan Allah itu men-judge hamba-Nya. Selama yang kita pelajari itu memiliki dampak kebaikan, kita masih berada di jalan Allah. Contoh: Belajar herbal, main basket, world building. Ustadz Felix menambahkan bahwa yang menentukan seseorang itu Muslim atau tidak adalah koneksi pemikiran. Rasulullah mengganti pemikiran orang kafir Quraisy saat beliau mendakwahkan agama Islam. Contoh. Orang kafir Quraisy tidak boleh dibunuh, tetapi tujuannya adalah untuk menjaga keteraturan atau kebaikan bersama. Tetapi mereka tidak tahu ada hari akhir dan ada 1 Tuhan yang mengendalikan semuanya. Agama Islam mengajarkan pola pikir bahwa Tuhan itu 1, yang menentukan segalanya dan manusia akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, manusia menjalankan apa yang menjadi keinginan Tuhan agar ia bisa selamat tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
4. Kebebasan berpikir dan fitrah anak muda.
Ustadz Felix menilai anak-anak Pandji yang tumbuh di Amerika sebenarnya memiliki keuntungan karena terbiasa berpikir bebas. Islam sendiri adalah agama yang sangat menekankan proses berpikir dan mengkritisi tradisi atau ritual yang tidak benar. Contoh: Agama Islam mengkritisi pemikiran rasialis dan praktik perbudakan. Selain itu, anak muda zaman sekarang (Gen Z) memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap isu keadilan sosial dan kezaliman, seperti pembelaan terhadap penjajahan yang terjadi di Palestina, yang mana hal itu sebenarnya sangat selaras dengan nilai-nilai dalam Al-Qur’an.
5. Pintu masuk mengenalkan Islam.
Dibandingkan dengan memulai dari mengenalkan konsep “benar atau salah” (yang sering kali tidak memiliki keuntungan atau insentif langsung bagi anak), orang tua sebaiknya mengenalkan Islam dari sisi bagus dan manfaatnya terlebih dahulu. Misalnya dari sisi Islam mendorong umatnya untuk memperjuangkan tercapainya keadilan.
a. Untuk Dipo, ia bisa didekatkan melalui kisah-kisah penciptaan alam semesta atau gaya penceritaan Al-Qur’an yang sangat sinematik dan kaya akan konsep dunia. Ada buku yang bagus berjudul The Hero with a Thousand Faces.
b. Untuk Shira (Sani), ia bisa didekatkan lewat nilai menolong sesama melalui meracik ramuan, termasuk kisah-kisah nabi yang juga bertindak sebagai penyembuh atau tabib (seperti Nabi Isa/Yesus).
6. Bagaimana cara Rasulullah ﷺ memperkenalkan agama Islam kepada kaum kafir Quraisy?
Ustadz Felix melihat Rasulullah ﷺ sebagai tokoh besar pelaku perubahan sosial (social change). Dua pilar utama peradaban yang dibawa Rasulullah ﷺ adalah keadilan dan kemanusiaan. Manusia dikatakan beradab jika ia sudah mulai berlaku adil dan manusiawi. Yang menjadi masalah adalah semua peradaban manusia awalnya bagus dalam menerapkan kedua hal ini, tetapi kemudian mereka melupakan itu. Mereka awalnya menjamin adanya keadilan dan kemanusiaan. Contoh: Peradaban Romawi dan Persia. Pada akhirnya Rasulullah ﷺ yang mencontohkan bagaimana cara meng-install keadilan dan kemanusiaan itu kepada seluruh jazirah Arab ketika beliau berdakwah kepada kaum kafir Quraisy. Generasi muda Quraisy dahulu tertarik bukan karena syariat ritual yang langsung diturunkan (karena sholat baru diperintahkan bertahun-tahun kemudian), melainkan karena konsep jaminan keadilan dan kesetaraan manusia yang Rasulullah ﷺ tunjukkan secara nyata. Contoh: Rasulullah ﷺ mau duduk di bawah dan makan bersama para budak.
7. Memperbaiki relasi & masuk ke dunia anak.
Hubungan yang baik antara orang tua sebagai pembawa pesan (messenger) dengan anak adalah hal krusial. Jika anak merasa sebal terhadap orang tuanya, argumen logis atau ajaran agama sebaik apa pun tidak akan bisa masuk. Ustadz Felix rela membaca komik Demon Slayer selama 2 malam berturut-turut demi bisa berdialog tentang nilai kebaikan melalui sudut pandang karakter yang disukai oleh anaknya. Orang tua ditantang untuk mau belajar dan mencari “pintu masuk” lewat apa yang diminati anak. Contoh: Pandji akan mencoba untuk berdialog dan mau belajar tentang herbal dan penulisan cerita (world-building).
8. Fase mendidik anak menurut panduan Islam.
Ustadz Felix menyebutkan tahapan perlakuan kepada anak berdasarkan usia:
-
Usia dini. Diperlakukan laksana raja (segala keinginannya dituruti, didekati dengan penuh kasih sayang tanpa bentakan, agar terbangun koneksi batin yang baik).
-
Usia anak remaja (teens): Diperlakukan layaknya karyawan (diberikan contoh, didampingi prosesnya, lalu dievaluasi bersama).
-
Usia dewasa muda. Diperlakukan seperti teman (diajak berdialog, bertukar pikiran, dan dimintai pendapat). Mulai dari yang bagus, baik, sampai benar. Kalau kita tidak bisa menemukan apa yang penting bagi anak kita, maka kita tidak akan bisa ngobrol dengan anak kita. Contoh: Saat anak kita sedang jatuh cinta, masalah cinta menjadi hal yang penting bagi anak kita saat itu. Bagi anak yang suka worldbuilding, bisa ditanyakan tentang worldbuilding. Bisa ditanyakan kalau dia yang menjadi penulis Harry Potter atau The Boys, bagaimana dia akan membuat ending ceritanya. Jadi masuk ke dunia anak mulai dari yang bagus menurut anak dulu. Setelah itu baru kita bisa masuk ke hal-hal yang baik dan yang benar (berhubungan dengan agama Islam).
9. Bagaimana cara menumbuhkan keimanan kepada Allah agar anak mau menjalankan ajaran agama Islam?
Iman (tasdiqul jazm) didefinisikan sebagai keyakinan 100% tanpa cela. Keyakinan ini tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh lewat akumulasi wawasan (ilmu) dan bukti nyata yang diamati di dunia sekitar, sampai akhirnya iman itu bisa naik ke 100%. Contoh: Anak kecil punya rasa ingin tahu yang besar terhadap api. Lama-lama ia akan tahu bahwa api itu panas dan bisa membakar benda lewat serangkaian percobaan membakar benda yang ada di sekitarnya. Saat sudah tahu ilmunya, akan muncul iman. Demikian juga ketika kita beriman kepada Allah. Tetapi Allah kan tidak bisa dilihat? Contoh: Bani Israil ingin melihat wujud Allah. Lalu mereka disambar petir. Setelah disambar petir, mereka semua mati, lalu Allah hidupkan mereka kembali. Setelah adanya bukti Allah bisa mematikan dan menghidupkan mereka kembali baru akhirnya mereka beriman kepada Allah.
10. Bagaimana cara membuktikan adanya Allah di zaman modern?
Caranya dengan melihat segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Dalam film Interstellar dijelaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini ada polanya. Ketika kita bisa melihat adanya pola di alam semesta, maka ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lain, yang mengatur alam semesta. Ketika kita melihat simbol Wi‑Fi di HP kita nyala, maka kita tahu bahwa ada Wi‑Fi di sekitar kita. Manusia memperoleh bukti dan ilmu dari pengamatan yang ia lakukan. Makanya Allah memerintahkan kita untuk membaca (iqra), lihatlah, lalu analisislah. Cobalah untuk membaca terlebih dahulu, Jangan percaya begitu saja perkataan orang lain. Contoh: Kalau menurut teori Big Bang, maka makin lama alam ini akan makin rusak, dan bukannya makin teratur. Agar alam semesta tidak rusak, maka harus ada yang memeliharanya. Para ilmuwan menyebut ini dengan istilah Supranatural Being yang berada di luar ruang dan waktu. Orang Muslim menyederhanakan dengan menyebut itu Allah. Manusia itu mempunyai free will, apakah ia mau atau tidak untuk menerima hidayah itu. Kita tidak bisa memastikan karena hidayah tidak bekerja secara matematis.
11. Tugas utama orang tua adalah menjadi penyedia wawasan dan ilmu bagi anak
Tanpa adanya wawasan, seorang anak tidak akan tahu bahwa yang ada di sekitarnya adalah bukti. Mereka hanya melihat adanya simbol, tapi tidak tahu simbol itu untuk apa. Contoh: Melihat adanya simbol Wi‑Fi di HP, tapi tidak tahu untuk apa Wi‑Fi itu. Ketika seorang anak sudah diberikan wawasan atau ilmu, ia akan bisa menyambungkan wawasan dengan bukti yang ada. Jadi, ketika ada logo Wi‑Fi, maka ada jaringan internet yang bisa ia gunakan. Berkaitan dengan masalah hidayah, tugas orang tua adalah memberikan wawasan tentang Islam kepada anaknya. Adapun masalah apakah anak akan tergerak untuk mendapatkan hidayah Islam atau tidak, itu adalah proses yang harus dijalani oleh anak itu sendiri. Sebagai orang tua, tidak perlu merasa stres dan menyalahkan diri sendiri saat anaknya sudah diberikan segalanya, tapi si anak masih belum tergerak ke arah hidayah tersebut. Karena hidayah bagi tiap orang berbeda-beda. Hidayah itu merupakan ranah dan hak prerogatif dari Allah. Bahkan Rasulullah ﷺ pun ditegur dalam Al-Qur’an bahwa beliau tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang paling dicintainya sekalipun (pamannya Abu Thalib). Jadi, kalau ada anak yang tidak mau mengerjakan sholat atau puasa, maka itu bukan kesalahan orang tuanya. Tetapi kalau ada anak yang tidak tahu cara sholat dan puasa, maka itu adalah kesalahan dari orang tuanya, karena tidak pernah mengajarkan hal itu kepada anaknya.
12. Ada seorang psikolog yang mengatakan bahwa kita secara konstan mengkhianati diri kita sendiri
Seandainya kita bisa bertemu dengan diri kita di masa depan, maka diri kita di masa depan bisa menunjukkan bahwa ada hal-hal baik yang tidak kita lakukan saat ini akan membuahkan penyesalan bagi diri kita di masa depan. Jadi, yang kita lakukan saat ini mengkhianati diri kita di masa depan. Contoh: Kita sudah tahu bahwa kita harus diet dan berolahraga agar lebih sehat dan memiliki kemungkinan hidup yang lebih panjang. Tetapi kita tetap tidak mau diet dan berolahraga. Sayangnya, diri kita di masa depan tidak ada untuk mendebat kita saat ini. Di dalam Al-Qur’an digambarkan bahwa manusia akan menyesal di hari kiamat karena hanya melihat diri mereka saat ini saja dan tidak mau melihat diri mereka di hari kiamat nanti. Kalau kita hanya memikirkan diri kita yang sekarang saja, maka kita akan jatuh, karena kita hanya mau yang enak dan gampang saja. Kalau kita mengikuti pikiran kita, maka ia akan memberikan kesenangan secara instan. Kita bisa rusak. Kalau setiap hari kita bisa belajar untuk tidak mengkhianati diri kita di masa depan, maka kita pasti akan sukses. Ini adalah hal yang islami. Allah menyuruh kita untuk tidak hanya memikirkan masa sekarang, tetapi juga memikirkan masa depan kita. Contoh: Orang yang mau tetap pergi ke gym karena adanya harapan untuk bisa sehat di masa depan. Demikian juga dengan mau mengerjakan sholat dan ibadah lainnya. Jadi, kalau kita bisa mengajak anak kita untuk berpikir tentang apa yang diperolehnya di masa depan, maka dia sudah islami.
13. Beralih dari motivasi bergerak karena adanya reward-punishment ke purpose
Motivasi tindakan manusia bergerak dari tingkat terendah, yaitu mencari kesenangan fisik (pleasure) seperti reward and punishment, naik ke identitas (passion), hingga yang tertinggi, yaitu tujuan hidup (purpose). Semakin kuat tujuan hidupnya, akan semakin kuat alasan seseorang untuk berubah. Pendekatan terhadap anak remaja tidak bisa lagi menggunakan metode transaksional ala carrots and sticks (hadiah pahala vs hukuman dosa) karena berisiko menimbulkan trauma agama. Contoh: Seorang anak yang tidak mau mengaku Muslim karena ada trauma agama di masa kecilnya. Anak remaja perlu diajak melihat tujuan jangka panjang yang logis untuk menjalankan syariat agama, misalnya, mengapa seseorang harus berpuasa. Dengan landasan tujuan (purpose), anak akan melihat bahwa bahkan di zaman dahulu, Nabi Muhammad ﷺ sudah menyuruh umat Islam berpuasa, padahal belum ada penelitian yang menunjukkan manfaat puasa bagi tubuh saat itu. Ada penelitian yang menunjukkan minimal dalam setahun kita berpuasa selama 30 hari agar tubuh sehat. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk berpuasa karena perut adalah sumber banyak penyakit, sehingga harus dikontrol.
14. Bukan sholat yang membuat seseorang otomatis menjadi saleh
Ustadz Felix menutup perbincangan dengan menekankan bahwa kesalehan (rasa cinta kepada Tuhan) yang membuat orang itu dengan sendirinya mau mendirikan sholat. Oleh karena itu, prioritas utama orang tua adalah mendidik jiwa anak agar mencintai agamanya (menjadi saleh) terlebih dahulu sebelum anak mau mengerjakan syariat agamanya.
Semoga bermanfaat. Mohon maaf dan juga mohon koreksi jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum. Barakallahu fikum.
Note: Mohon untuk menonton juga video lengkap podcast yang ada di link Youtube di atas.
#PandjiPragiwaksono #FelixSiauw #anak #PutarBalik #Putbal #islamic #faith #tauhid