Ke Mana Mencari Hidayah? (Part 2)
Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 10 ini, Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw kembali membahas tentang hidayah.
Podcast: Pandji Pragiwaksono & Ustadz Felix Siauw
Tanggal: 11-02-2026
Sumber: YouTube
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 10 ini, Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw kembali membahas tentang hidayah. Ada beberapa hal menarik yang dibahas dalam podcast ini, sebagai berikut:
1. Misteri dan kontrol hidayah
Manusia diberikan akal dan Al-Qur’an, namun jika Allah tidak memberi izin, maka hidayah tidak akan sampai kepadanya. Misteri ini penting agar manusia tetap rendah hati, terus berupaya, dan berhati-hati dalam melangkah. Kita juga akan selalu berusaha berprasangka baik kepada Allah. Misteri itu tujuannya agar manusia tidak merasa dapat mengendalikan semuanya.
2. Apakah kita tidak bisa berusaha supaya lebih pasti diizinkan Allah untuk mendapatkan hidayah?
Kita bisa terus berusaha agar orang yang kita sayangi mendapatkan hidayah. Contoh: Ustadz Felix selalu mendoakan dan mengajak ayahnya agar bisa mendapatkan hidayah. Akan tetapi tetap saja kita tidak bisa memastikan orang tersebut akan mendapatkan hidayah. Rasulullah ﷺ saja tidak bisa mengajak pamannya Abu Thalib untuk mendapatkan hidayah.
3. Hidayah itu bukan sekadar hafalan, tapi tindakan
Di Indonesia ada banyak orang yang bilang bahwa ia mencari hidayah, tetapi pada kenyataannya dia tidak benar-benar mencari hidayah. Ini karena mereka salah paham dengan apa itu hidayah (sign atau guidance). Banyak orang salah paham dengan menganggap hidayah hanya sebagai pengetahuan yang bisa dihafalkan. Ustadz Felix memberi perumpamaan bahwa menghafal rute menuju bandara tidak akan membuat seseorang sampai di sana jika ia tidak mau melangkah. Begitu pula dengan orang yang hanya mau menghafalkan Al-Qur’an. Yang membuat seseorang bisa selamat adalah saat ia mau mengamalkan isi Al-Qur’an tersebut, bukan sekadar menghafalnya. Al-Qur’an itu adalah sebuah petunjuk. Kita akan sampai ke tujuan jika mau berjalan mengikuti petunjuk tersebut. Ketika kita sudah bergerak mengikuti petunjuk yang benar, maka kita akan bisa menemukan kebenaran tersebut. Semakin banyak bergerak, maka kita akan semakin yakin dengan ide kebenaran tersebut. Hidayah itu bukan hanya tanda (sign), tetapi juga tindakan (action).
4. Apa yang membuat kita akhirnya mau bergerak setelah mendapatkan petunjuk?
Apakah kita butuh petunjuk lagi untuk bergerak? Apakah hidayah itu berlapis-lapis? Jawabannya iya. Ini adalah bentuk hidayah yang ketiga (hidayah taufik). ACC dari Allah adalah kemudahan dan urgensi yang kita alami untuk bisa mendapatkan hidayah. Segala sesuatu yang membuat kita harus ke sana.
5. Apa yang akan kita dapat di ujung perjalanan itu?
Secara teoritis, di ujung jalan itu yang kita cari adalah keridaan Allah. Di dalam Al-Qur’an sebenarnya Allah tidak meminta kita untuk memikirkan ujung jalannya.
6. Fokus pada jalan, bukan ujungnya
Dalam surat Al-Fatihah ayat keenam: “Ihdinas siratal mustaqim” (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Allah meminta kita memohon jalan, bukan langsung ke tujuannya. Dalam Islam, proses berada di jalan yang benar lebih penting daripada memusingkan hasil akhirnya, karena jika fokus hanya kepada tujuan, maka manusia cenderung jadi menghakimi orang lain akan masuk surga atau neraka. Jadi, fokus saja agar kita selalu berada di jalan yang benar. Mungkin ada orang yang berjalannya agak di pinggir. Ada yang berjalan di depan atau ada yang di belakang. Ada yang tidak berjalan, tapi naik mobil. Selama kita semua masih berada di jalan yang sama (jalan yang lurus), maka it doesn’t matter. Menurut Pandji, tugas kita sebagai seorang Muslim adalah berusaha mengembalikan sebanyak-banyaknya orang ke jalan yang lurus. Ketika ada orang yang berjalan lebih di depan, maka jangan menghakimi orang yang berjalan di belakang, di sebelah kanan atau di kirinya selama mereka masih berada di jalan yang benar.
7. Nabi Muhammad ﷺ membuat grand design cara membebaskan Baitul Maqdis (Palestina)
Tetapi beliau tidak meninggal dalam keadaan melihat Palestina sudah merdeka. Hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau gagal, tetapi tugas beliau memang memberitahu kita umatnya bahwa ini adalah jalannya. Menurut Pandji, kalau kita menggunakan analogi permainan sepak bola, sering kali kita melihat ada pelatih yang tetap marah ke para pemainnya, walaupun mereka memenangkan pertandingan. Jangan hanya memikirkan menang saja, tapi harus bermain dengan benar. Trust the process. Demikian juga saat kita mengejar karier. Uang dan ketenaran itu bukan tujuan, tetapi dampak. Kalau kita melakukan sesuatu dengan benar dan bagus, maka rezeki akan kita dapatkan. Bahkan di dalam agama Islam pun yang harus kita pastikan adalah bahwa kita benar-benar sudah berada di jalan yang lurus. Apakah kita sudah benar-benar menemukan petunjuk ke jalan yang lurus? Pada saat sudah mendapatkan petunjuk tersebut, tugas kita hanya berjalan di atas petunjuk tersebut. Menurut Ustadz Felix, jalan itu lebih penting daripada tujuannya.
8. Dalam surat Al-Fatihah ayat ketujuh setelah ayat keenam
“Ihdinas siratal mustaqim”, maka Allah mengulang sebagian ayatnya lagi: Siraaṭallażiina an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍaalliin. Artinya: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka (jalan orang yang baik), bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
9. Ada 4 golongan orang yang kita ikuti jalannya
Pertama, jalan para nabi. Kedua, jalan para shidiqqin, yaitu orang-orang yang membersamai para nabi. Ketiga, jalan syuhada, yaitu orang-orang yang mati karena berjuang di jalan Allah (mati syahid). Keempat, jalan orang yang saleh atau para ulama. Sebaliknya, jalan yang tidak boleh kita ikuti adalah jalan orang-orang yang kafir, zalim, dan fasik. Orang yang fasik adalah orang yang sudah tahu bahwa sesuatu itu salah, tetapi tetap melakukannya.
10. Tips mencari petunjuk
Bagaimana cara yang terbaik untuk dapat menemukan petunjuk di dalam Al-Qur’an? Karena bisa saja kita membaca Al-Qur’an, tetapi akal kita tidak menangkap petunjuk tersebut. Ustadz Felix memberikan dua tips:
-
Mencari “orang dalam” (Rasulullah ﷺ). Pertama kali belajar agama Islam, kita harus tahu orang yang bisa memberi petunjuk. Contoh: Ketika kita bingung mencari alamat suatu tempat selain membawa peta, saat tersesat kita bisa bertanya kepada tukang ojek. Ketika kita tidak memahami Al-Qur’an, maka kita tinggal mencari “orang dalam”. Jadi kita mengikuti sosok yang sudah dibimbing oleh Allah (Rasulullah ﷺ) atau kalau saat ini kita mengikuti guru yang memahami Al-Qur’an. Tugas Rasulullah ﷺ adalah membimbing manusia ke jalan Allah. Kita tidak mungkin beragama tanpa mengikuti manusia, karena agama ini adalah agama manusia dan bukan agama malaikat. Berarti harus ada seorang manusia yang bisa mewakili itu semua. Hal ini akan mempermudah perjalanan kita untuk memahami petunjuk dari Allah.
-
Kemampuan memahami bahasa dan konteks. Tanda (sign) akan lebih berharga bagi orang yang memahami bahasa yang digunakan. Kemampuan berbahasa atau berekomunikasi kadang-kadang lebih penting daripada pengetahuan yang lain. Contoh: Orang yang pandai berbahasa Inggris akan lebih banyak mendapatkan manfaat membaca teks buku berbahasa Inggris, dibandingkan orang yang kurang paham bahasa Inggris. Memahami bahasa Arab, sejarah turunnya ayat (asbabun nuzul) atau konteks saat turunnya ayat tersebut akan memberikan pemahaman yang jauh lebih dalam.
11. Pada saat ingin memahami agama Islam, Panji diajak temannya mengikuti beberapa pengajian
Akan tetapi pulang dari pengajian tersebut ia merasa hampa, karena tidak mendapatkan yang ia cari. Sebenarnya Pandji sudah pernah ketemu dengan Ustadz Felix saat siaran di Hard Rock FM jauh sebelumnya. Walaupun sudah kenal, Pandji tidak pernah berpikir bahwa kelak akan bisa ngobrol panjang dalam suatu podcast dengan Ustadz Felix. Setelah sempat ada kasus dengan Ustadz Weemar Aditya, akhirnya mereka bertemu kembali, ngobrol, dan merasa nyambung. Bahkan tahun kemarin akhirnya mereka bisa membuat acara bersama yang bernama Before Iftar. Semakin ke sini, Pandji menyadari bahwa petunjuk yang kita cari akan semakin lengkap kalau faktor-faktor ke petunjuk itu bertambah banyak. Membaca peta adalah satu hal. Tetapi kita juga perlu bertanya ke orang lain yang tahu tempat yang akan kita tuju. Berjalan bersama-sama dengan orang yang menuju tujuan yang sama juga akan membantu perjalanan kita.
12. Pentingnya lingkaran pertemanan
Pandji menyadari bahwa untuk tetap berada di jalan yang lurus, seseorang perlu meleburkan diri dalam banyak kegiatan positif dan berteman dengan orang-orang yang juga sedang mencari atau sudah berada di jalan tersebut. Contoh: mengikuti pengajian, membaca Al-Qur’an, membaca hadis. Itulah pentingnya kita mengikuti pengajian. Jadi yang salah saat awal Pandji ikut pengajian itu bukan kajiannya, tetapi saat itu ia belum mendapat petunjuk. Menurut Ustadz Felix, dalam agama Islam bisa saja orang mendalami agama dengan akalnya saja, akan tetapi tidak akan maksimal. Karena tetap harus ada contohnya. Untuk itulah Rasulullah ﷺ dan guru-guru itu hadir.
13. You are the average of 5 people around you
Kalau kita ingin menjadi orang yang sukses, maka jangan mengelilingi diri kita dengan para pecundang. Walaupun saat ini kita belum sukses, kalau kita mengelilingi diri kita dengan orang yang sukses, mereka akan mengangkat (elevate) kita kepada kesuksesan. Demikian juga dalam proses kita bertemu dengan petunjuk. Kalau kita sedang ingin putar balik ke jalan yang lurus, maka kita harus bersama dengan orang-orang yang mencari jalan yang lurus itu. Menurut Ustadz Felix, dengan banyak orang yang mendoakan kita agar mendapatkan hidayah, itu juga dapat membantu menuju hidayah. Selain itu, akal yang kita miliki juga dapat membantu kita menuju hidayah. Makanya kadang orang memerlukan waktu untuk menyendiri untuk merenungi kata-kata dia sendiri. Default-nya manusia itu biasanya baik. Contoh: Cobalah untuk bangun pagi-pagi, lalu ngomong sama diri kita sendiri. Cari tahu apa yang paling penting dalam hidup kita. Apa yang kita cari dalam hidup ini? Akhirnya akan ada keinginan dari dalam diri kita untuk terus belajar. Ini adalah bagian dari hidayah. Menurut orang Cina, kalau murid sudah siap, maka guru akan muncul. Jadi guru itu tidak akan muncul kalau muridnya belum siap. Kalau muridnya belum siap, maka ia tidak akan siap untuk belajar. Kalau sudah siap, maka alam pun bisa menjadi guru, kata orang Minang (alam takamban jadi guru).
14. Pintu surga untuk orang yang rajin
Bagaimana dengan orang Islam yang Islamnya go with the flow atau mengalir saja? Apakah sama orang Islam yang tahu ujung jalan yang dicari dengan orang yang go with the flow saja? Jawabannya ujungnya sama, walau mungkin derajatnya berbeda. Ustadz Felix menyebutkan bahwa Allah Maha Baik. Ada pintu surga bagi mereka yang mungkin tidak terlalu paham agama Islam, tapi sangat rajin dan disiplin dalam ibadah ritualnya (go with the flow), meskipun derajatnya mungkin berbeda dengan mereka yang beribadah disertai ilmu. Bagi orang-orang yang dimudahkan hidayahnya oleh Allah, akan dilapangkan dadanya dan mudah untuk bernapas. Tetapi orang-orang yang menolak hidayah, maka disulitkan oleh Allah hidayahnya. Ia akan seperti orang yang sedang mendaki gunung. Mereka akan sulit bernapas karena oksigennya kurang. Sesak hidupnya karena ia melawan alam. Orang-orang yang mudah dalam hidupnya adalah orang-orang yang mendapatkan hidayah. Konten Putbal ini juga bisa menjadi petunjuk bagi kita untuk menemukan petunjuk-petunjuk berikutnya. Pada saat konten Putbal ini muncul di beranda YouTube kita, itu sebenarnya adalah bagian hidayah. YouTube bisa menjadi distributor hidayah bagi kita. Bagi orang-orang Muslim yang Allah sayang, maka akan Allah ampuni kesalahan-kesalahannya. Bagi orang-orang non-muslim yang Allah sayang, Allah akan mempermudah datangnya hidayah kepadanya.
Semoga bermanfaat. Mohon maaf dan juga mohon koreksi jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum. Barakallahu fikum.
Note: Mohon untuk menonton juga video lengkap podcast yang ada di link Youtube di atas.