#YukNgaji
Menu
© 2026 YukNgaji
Ditulis oleh: Fanny Angelia

Ke Mana Mencari Hidayah? (Part 1)

Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw membahas tentang hidayah dalam podcast Putar Balik episode 9.

Ke Mana Mencari Hidayah? (Part 1)

Podcast: Pandji Pragiwaksono & Ustadz Felix Siauw
Tanggal: 04-02-2026
Sumber: YouTube

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 9 ini, Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw membahas tentang hidayah. Ada beberapa hal menarik yang dibahas dalam podcast ini, sebagai berikut:

1. Arti harfiah

Hidayah berasal dari kata hada yang berarti menunjuki (kata kerja, aktivitasnya). Hidayatan adalah kata bendanya yang berarti petunjuk atau guidance. Hadi adalah orang yang memberikan petunjuk. Ini berarti kita disuruh untuk mencari petunjuk menuju sesuatu. Kalau ada petunjuk, berarti harus ada tujuannya. Petunjuk/hidayah (guidance) adalah tanda-tanda (signs) untuk menuju kepada Allah. Ini dapat berupa kebaikan, ketaatan, keberlimpahan. Saat seseorang sudah mendapatkan petunjuk atau hidayah, maka ia akan kembali ke jalan yang lurus.

2. Kenapa ada kesan bahwa orang tidak menganggap ayat Al-Qur’an sebagai sebuah hidayah, sedangkan tanda-tanda alam lebih dianggap sebagai hidayah?

Ini terjadi karena adanya distorsi budaya. Di Indonesia, makna hidayah sering mengalami pergeseran akibat pengaruh budaya populer (seperti sinetron), di mana hidayah dianggap sebagai kejadian mistis atau tanda-tanda alam yang luar biasa. Padahal hidayah yang paling nyata ada di dalam Al-Qur’an. Hidayah juga bisa didapatkan saat seseorang pergi umrah. Tanda atau signs itu adalah ayat-ayat Allah. Sesuatu yang valuable dan dapat memberikan kebaikan kepada kita. Pada saat seseorang membaca Al-Qur’an, sebenarnya ia sedang mencari guidance. Hidayah itu seharusnya adalah sesuatu yang bisa direplikasi, berlaku kepada semua orang, dan di setiap waktu.

3. Ke mana seharusnya kita mencari petunjuk yang paling benar?

Banyak orang yang salah persepsi dengan mengatakan bahwa ia sedang menunggu datangnya hidayah. Contoh: Orang yang belum mau salat atau menutup aurat karena merasa belum mendapatkan hidayah, ketika mereka belum bisa melakukan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan. Sebenarnya hidayah itu sudah sampai kepada kita.

4. Tiga klasifikasi hidayah

Ustadz Felix menjelaskan bahwa kata hidayah di dalam Al-Qur’an secara garis besar dibagi menjadi tiga kategori:

  • Hidayah akal: Setiap manusia diberikan akal untuk membedakan mana yang baik dan buruk secara logika, meskipun tanpa agama sekalipun. Allah berfirman bahwa akal adalah bagian dari hidayah. Kalau kita menggunakan akal, maka kita bisa mendapatkan petunjuk dari Allah. Contoh: Pandji mengatakan bahwa ia menemukan keyakinan adanya Tuhan melalui akalnya. Menurutnya, Allah berada di balik semua misteri ilmu pengetahuan yang belum terungkap. Sampai sekarang orang tidak tahu penyebab Big Bang atau apa yang ada di dalam black hole. Ketika kita tidak bisa menjawab semua pertanyaan ini, maka ini adalah bukti kebesaran Allah. Akan tetapi, ada juga orang yang memiliki akal tetapi tidak ketemu hidayahnya. Hal ini mungkin saja terjadi kalau orang tersebut belum menemukan tanda yang berkaitan atau relevan bagi mereka. Contoh: Para scientist yang sangat cerdas akalnya, tetapi mereka belum menemukan Tuhan. Hal ini berkaitan dengan bentuk hidayah yang ketiga (hidayah taufik).

  • Hidayah yang diturunkan oleh Allah, yaitu Al-Qur’an dan kitab-kitab suci sebelumnya (signs/tanda). Petunjuk tertulis dalam bentuk kitab suci yang berisi hukum, kisah, dan aqidah sebagai panduan hidup manusia. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Al-Qur’an itu adalah petunjuk (guidance) bagi manusia.

  • Hidayah taufik. Ini adalah “persetujuan” atau “ACC” dari Allah. Seseorang bisa saja punya akal dan membaca Al-Qur’an, namun belum tentu hatinya tergerak jika Allah belum memberikan taufik-Nya. Makanya kita akan selalu mengatakan bahwa hidayah itu dari Allah, karena tidak semua orang yang berpikir mendapatkan hidayah. Jadi, hidayah itu adalah berkah besar dari Allah yang diterima oleh manusia. Contoh: Hidayah memeluk agama Islam.

5. Surat Al-Qashash ayat 56

Innaka laa tahdii man aḥbabta wa laakinnallaaha yahdii may yasyaa`, wa huwa a’lamu bil-muhtadiin. Artinya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. Ayat ini menjadi teguran sekaligus hiburan bagi nabi Muhammad ﷺ. Ini bukalah sebuah kegagalan dari Rasulullah ﷺ ketika paman yang dicintainya tidak mau beriman kepada Allah. Ini juga jadi teguran kepada Rasulullah ﷺ, bukan dia yang bisa memberikan hidayah kepada orang lain. Allahlah yang paling tahu siapa yang paling pantas untuk mendapatkan hidayah. Contoh: Ustadz Felix mendoakan ayah, ibu, dan adiknya untuk mendapatkan hidayah untuk memeluk agama Islam. Tetapi malahan Allah memberikan hidayah itu kepada kakaknya yang dibenci dan tidak pernah didoakan untuk mendapatkan hidayah. Jangan sampai kita bersikap tidak adil dan men-judge orang lain sehingga menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan hidayah.

6. Kenapa surat Al-Baqarah itu terasa lebih spesial dibandingkan surat yang lain?

Pandji tahu di dalam Surat Al-Baqarah ada ayat kursi yang terasa spesial dan ini adalah surat yang sangat panjang. Ustadz Felix menjelaskan bahwa di dalam hadis dijelaskan bahwa surat Al-Baqarah adalah “punuk” nya Al-Qur’an. Selain ada ayat kursi, Surat Al-Baqarah adalah surat yang sering dibaca saat orang baru pindah rumah atau mau melakukan aktivitas yang baru. Kalau surat Al-Fatihah adalah cover dari Al-Qur’an, maka surat Al-Baqarah ini berfungsi seperti kata pengantar (preface) yang memberi petunjuk kepada manusia bahwa dia harus membaca di bagian mana yang paling penting bagi dirinya.

7. Surat Al-Baqarah mengelompokkan manusia menjadi tiga tipe

Pertama, orang yang beriman kepada Allah (4 ayat). Ini adalah orang yang paling banyak mendapatkan manfaat saat membaca Al-Qur’an. Kedua, orang kafir (2 ayat). Ini adalah orang yang menutup dirinya daripada kebenaran. Al-Qur’an itu seperti cahaya, maka ketika seseorang sudah menutup dirinya, cahaya itu tidak akan bisa masuk. Mereka tidak mendapatkan manfaat dari membaca Al-Qur’an. Ketiga, orang munafik (13 ayat). Ini adalah orang yang menjadikan Al-Qur’an berguna bagi orang lain, tetapi tidak berguna bagi dirinya sendiri. Berarti yang paling banyak di muka bumi ini adalah orang munafik.

8. Kenapa suatu ayat Al-Qur’an terasa lebih bagus bagi kita daripada ayat yang lain?

Jawabannya adalah karena ayat itu berhubungan atau ada keterkaitan dengan diri kita. Hidayah akan terasa ketika seseorang merasa terkait dengan yang dibaca atau dilakukan. Sayangnya, terkadang orang membaca ayat Al-Qur’an untuk mengaitkan ayat itu ke orang lain, dan bukan untuk dirinya sendiri. Mereka membaca Al-Qur’an untuk bisa menghukumi orang lain atau hanya sekadar ritual saja.

9. Logika kita dibentuk oleh lingkungan di mana kita dibesarkan

Maka kita harus bersyukur ketika dibesarkan di lingkungan yang mengajarkan untuk berpikir kritis, sehingga kita bisa memiliki logika yang bagus. Tetapi bagaimana jika kita tidak mendapatkan hal itu? Al-Qur’an itu bisa menjadi petunjuk bagi semua orang, tanpa terkecuali, asalkan ia memiliki akal. Tetapi memang orang-orang yang pintar akan memiliki privilege saat mempelajari Al-Qur’an. Ia akan lebih mudah, lebih banyak, dan lebih cepat memahami Al-Qur’an.

10. Al-Qur’an bisa memberikan pemahaman yang berbeda pada seseorang tergantung pada bias, fase hidup, dan pengalaman yang dialaminya

Ayat yang sama bisa dimaknai berbeda saat dibaca di waktu yang berbeda. Contoh: Ustadz Felix baru memahami pada tahun 2021 bahwa Allah akan lebih cepat mengabulkan doa kita saat kita memintanya bersama-sama dengan orang lain. Dalam surat Al-Fatihah ayat keenam: Ihdinaṣ-ṣiraaṭal-mustaiim. Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus. Kami di sini berarti kita harus bareng-bareng. Kalau kita minta ke Allah-Nya bareng-bareng, maka Allah akan “malu” kalau tidak mengabulkan doa kita.


Semoga bermanfaat. Mohon maaf dan juga mohon koreksi jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum. Barakallahu fikum.

Note: Mohon untuk menonton juga video lengkap podcast yang ada di link Youtube di atas.

Ditulis oleh: Fanny Angelia

Bagikan artikel ini: