Cara Berdoa yang Benar (Part 1) | Putar Balik (Putbal) Ep. 17
Pembahasan cara berdoa yang benar, makna ikhlas, Ayat Kursi, bahasa doa, dan kedekatan Allah pada Putar Balik episode 17.
Podcast: Pandji Pragiwaksono & Ustadz Felix Siauw
Tanggal: 25-03-2026
Sumber: YouTube
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 17 ini, Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw membahas cara berdoa yang benar. Ada beberapa hal menarik yang dibahas dalam podcast ini, sebagai berikut:
-
Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Hal ini terdapat di dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 dan pada ayat berikutnya (ayat 186) langsung berbicara tentang doa. Menurut para ulama, bulan Ramadan itu sangat dimuliakan karena turunnya Al-Qur’an. Ini adalah cara Allah untuk berkomunikasi dengan manusia. Maka balasannya adalah cara manusia berkomunikasi dengan Allah, yaitu melalui doa. Ketika orang membaca Al-Qur’an, immediate response-nya adalah doa. Allah berkomunikasi kepada kita melalui Al-Qur’an, maka kita berkomunikasi balik kepada Allah melalui doa.
-
Surat Al-Baqarah ayat 186: Wa iżaa sa
alaka 'ibaadii 'annii fa innii qariib, ujiibu da'watad-daa'i iżaa da'aani falyastajiibụ lii walyuminụ bii la’allahum yarsyudụn. Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah ia itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah ia beriman kepada-Ku, agar ia selalu berada dalam kebenaran. -
Kenapa tidak ada kata ikhlas di dalam Surat Al-Ikhlas? “Ikhlas” berasal dari kata khalasha, yang artinya habis atau kosong. Ketika kita menganggap banyak hal di dunia ini penting, misalnya harta, istri, orang tua, anak, usaha, maka di ayat itu Allah memerintahkan kita untuk “menghabiskan semuanya”. Qul huwallahu ahad (Katakan Allah Maha Esa). Allah tempat kita bergantung. Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada satu pun yang sama dengan Dia. Setelah kita memahami seluruh Al-Qur’an, maka habiskan itu semua dan tidak ada yang lain selain Allah. Itulah inti dari kebenaran. Makanya di Surat Al-Ikhlas tidak disebut kata ikhlas, karena ikhlas itu “tidak disebut-sebut”.
-
Ikhlas itu melibatkan sebuah proses. Jadi kita tidak datang kepada Allah dengan langsung beriman kepada Allah. Tetapi kita datang dengan semuanya. Ketika kita datang dengan membawa semuanya, baru kita mengatakan Laa ilaha illallah. Inilah pentingnya proses tauhid atau mengesakan Allah.
-
Doa sebelum makan dan sebelum tidur itu dari mana? Apakah dari Al-Qur’an atau dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ? Doa sebelum makan itu dari Rasulullah ﷺ. Beliau mengajarkan membaca Bismillah sebelum makan, supaya setan tidak ikut makan bersama kita. Kalau lupa membaca doa di awal makan, maka ucapkan Bismillah awwaluhu wa akhiruhu. Kalau ada orang yang kelihatan tidak membaca doa sebelum makan, jangan dianggap dia tidak berdoa, karena bisa saja dia membaca doanya di dalam hati. Doa yang dibaca sebelum kita tidur itu juga doa dari Rasulullah ﷺ. Sebelum memulai segala sesuatu, kita berdoa dengan membaca Bismillah. Doa untuk orang tua itu diambil dari Al-Qur’an. Ustadz Oemar Mita pernah menulis buku yang berjudul: A Letter to Allah: 40 Rabbana di dalam Al-Qur’an.
-
Ada juga doa yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an, tetapi tetap baik bila dibaca, contohnya adalah doa berbuka puasa: “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthartu.” Doa berbuka puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ adalah: “Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” Kedua doa ini bisa dikombinasikan. Misalnya saat berbuka puasa membaca Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthartu. Setelah berbuka, kita membaca doa: “Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” Tetapi kalau tidak hafal, setelah berbuka puasa kita bisa membaca Alhamdulillah saja.
-
Bagaimana dengan ayat Kursi? Itu kan sering dibaca sendiri sebagai sebuah doa. Kenapa ayat Kursi begitu spesial? Doa itu berasal dari kata da’a atau yad’u. Artinya menyeru atau meminta. Terkadang kita bahkan bisa meminta kepada Allah dengan memanggil Allah, “Ya Allah” pada saat mengalami suatu kesulitan dalam hidup. Kita juga bisa berdoa dengan memakai nama-nama Allah. Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku dengan nama-nama-Ku.” Contoh: Saat kita memerlukan kasih sayang Allah, kita berdoa dengan mengucapkan: “Ya Rahman, Ya Rahim.” Pada saat perlu kecukupan harta, kita berdoa, “Ya Mughni.” Demikian juga saat kita membaca Ayat Kursi saat ingin berdoa kepada Allah. Ayat Kursi itu menggabungkan semua hal yang perlu kita ketahui tentang kemahabesaran Allah. Bahwa Allah itu tidak tidur, tidak beristirahat, dan senantiasa menjaga kita. Allah tidak terikat dengan tempat dan waktu. Itu seperti formulasi keesaan Allah yang paling kuat. Jika dipress jadi satu, maka ringkasan tentang kekuatan Allah, itulah ayat Kursi yang merangkum ke-Maha-an Allah. Dalam salah satu hadits dikatakan bahwa doa itu adalah inti dari ibadah. Shalat, puasa, dan haji, itu intinya adalah berdoa kepada Allah. Semua ibadah itu intinya berdoa kepada Allah.
-
Apakah doa yang dibaca saat ada orang yang meninggal dunia itu pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ? Bagaimana dengan doa yang dibaca saat acara 7 hari setelah orang meninggal dunia? Dalam surat Al-Baqarah ayat 156 Allah berfirman: Allażiina iżaa aṣaabat-hum muṣiibah, qaaluu innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’un. Artinya: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun”. Doa ini dibaca saat kita mengalami musibah, termasuk jika ada orang yang meninggal dunia. Akan tetapi, kalau ritual doa, di mana ada urutan doa yang dibaca saat ada orang yang meninggal dunia, maka itu hanya formula yang dibuat oleh manusia.
-
Bagaimana dengan orang yang membaca Surat Yasin saat ada orang yang meninggal dunia? Surat Yasin itu adalah jantung Al-Qur’an. Ada ulama yang melazimkan membaca Surat Yasin setiap pekan (hari Jum’at), bahkan ada yang membacanya setiap malam. Di hari Jum’at ada juga surat yang diminta oleh Rasulullah ﷺ untuk dibaca setiap pekan, yaitu Surat Al-Kahfi.
-
Apakah berdoa dengan bahasa sendiri diperbolehkan atau lebih baik memakai redaksi doa dari Al-Qur’an? Tidak selalu harus berdoa dalam bahasa Arab. Tetapi kalau kita bisa berdoa sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ, kenapa tidak? Umar bin Khattab r.a. pernah berkata, “Aku tidak khawatir doaku dikabulkan atau tidak, yang aku khawatirkan adalah apakah aku dimudahkan oleh Allah untuk berdoa. Karena kalau aku sudah dimudahkan oleh Allah untuk berdoa, maka Allah pasti akan mengabulkan doaku.” Menurut Ustadz Felix yang paling penting itu bukan redaksi doanya, tetapi intensi ketika kita datang untuk berdoa. Banyak orang yang berdoa, tetapi hatinya kosong atau tidak mengerti arti doa yang dibacanya. Lebih baik berdoa dengan bahasa yang kita mengerti dan kita hayati, karena kita meyakini bahwa Allah akan mengabulkan doa kita.
-
Dalam surat Al-Baqarah ayat 186 Allah berfirman: Wa iżaa sa’alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qariib. Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya sesungguhnya Aku adalah dekat (qarib). Artinya, ketika ada orang yang sudah mulai membaca Al-Qur’an dan memahami bahwa Allah itu sayang kepadanya, maka seolah-olah Allah mau bilang: “Muhammad, kamu minggir dulu, karena Aku akan bicara langsung kepada hamba-Ku: Sesungguhnya Aku dekat.” Kalau ada orang yang sudah baca Al-Qur’an dan mau berkomunikasi dengan Allah, seolah-olah Allah mau bilang: “Aku dari tadi sudah di sini. Aku dari dulu dekat. Kamu saja yang menjauh dari-Ku. Aku tidak pernah ke mana-mana.” Ayat selanjutnya berbunyi: ujiibu da’watad-daa’i iżaa da’aa. Kata ujiibu itu artinya menjawab. Kalau kata istajibu artinya berusaha untuk memenuhi, menjawab, atau merespons. Sedangkan ujiibu da’watan tidak menunjukkan adanya usaha. Artinya, kalau kita meminta kepada Allah, maka Allah akan langsung menjawab satu doa kita. Tidak perlu banyak berdoa, cukup satu saja misalnya, “Ya Allah.” tetapi intensinya masuk, maka akan langsung dijawab oleh Allah. Bahkan Allah tidak memberi syarat dan kondisi yang berat untuk berdoa. Tidak harus haji dulu atau shalat dulu, atau taat dulu baru boleh minta kepada Allah. Kapan pun kita meminta, maka Allah akan langsung menjawab (ujibu). Syaratnya cuma satu: Kita berusaha juga untuk menjawab panggilan Allah (falyastajibu lii). Karena Allah itu dekat, maka sebenarnya kita tidak perlu membaca doa dengan keras. Berdoa kepada Allah dengan rendah hati dan merendahkan suara kita. Terkadang kita tidak sadar bahwa banyak doa-doa kita yang terkabul saat kita merendahkan suara ketika berdoa.
-
Bagaimana cara kita bertobat kepada Allah? Caranya cuma dengan merasa bersalah dan memohon kepada Allah. Jadi, apa pun keinginan kita, kita bisa memintanya kepada Allah. Kalau kita pernah menjauh dari Allah dan ingin kembali (putar balik), maka kita cukup minta sekali saja sama Allah: “Ya Allah, aku ingin kembali kepada-Mu.” Maka akan langsung Allah jawab doa kita. Syaratnya cuma kita mau berdoa kepada Allah dan memenuhi panggilan Allah.
-
Bagaimana dengan orang yang membaca doa secara bersama-sama dan dikeraskan bacaannya atau “performatif”, padahal tadi katanya Allah itu dekat dan tahu isi hati kita? Rasulullah ﷺ pernah berdoa dengan keras sehingga para sahabat bisa mendengarkannya. Tujuannya ada dua: Pertama, untuk mengajarkan bacaannya (misalnya supaya kita tahu apa yang dibaca oleh Rasulullah ﷺ saat shalat). Kedua, sebagai syiar atau untuk menunjukkan kebersatuan, seperti dalam suasana perang atau saat doa berjamaah. Ketika berjamaah, boleh membaca doanya dikeraskan, selama tidak menganggu orang lain. Namun, kalau berdoa untuk diri sendiri, maka tidak perlu berdoa keras-keras, karena Allah Maha Mendengar.
(Bersambung)
Semoga bermanfaat. Mohon maaf dan juga mohon koreksi jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum. Barakallahu fikum.
Note: Mohon untuk menonton juga video lengkap podcast yang ada di link YouTube di atas.
#PandjiPragiwaksono #FelixSiauw #PutarBalik #Putbal #islamic #faith #pray #doa