#YukNgaji
Menu
© 2026 YukNgaji
Ditulis oleh: Fanny Angelia

Kenapa Puasa? (Part 2) | Putar Balik (Putbal) Ep. 12

Rangkuman pembahasan Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw tentang puasa pada Putar Balik episode 12.

Kenapa Puasa? (Part 2) | Putar Balik (Putbal) Ep. 12

Podcast: Pandji Pragiwaksono & Ustadz Felix Siauw
Tanggal: 25-02-2026
Sumber: YouTube

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 12 ini, Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw kembali membahas tentang puasa. Ada beberapa hal menarik yang dibahas dalam podcast ini, sebagai berikut:

  1. Esensi puasa pada siang dan malam hari. Rasulullah ﷺ membagi puasa di bulan Ramadan menjadi dua dimensi utama sebagai berikut:
  • Siang hari (Soma/Saum): Menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

  • Malam hari (Qoma/Qiam). Berdiri untuk menghidupkan malam dengan ibadah seperti salat tarawih, membaca Al-Qur’an, tadabur, atau itikaf di masjid. Ustadz Felix menjelaskan bahwa keberhasilan puasa di siang hari sangat dipengaruhi oleh kualitas ibadah di malam hari, dan sebaliknya. Kalau kita ingin sukses di siang hari, maka lakukan journaling di malam hari. Kita bersyukur dengan apa yang sudah terjadi hari ini dan membuat rencana yang akan kita lakukan di esok hari. Pada saat kita tidur, sebenarnya otak kita masih bekerja selama 24 jam sampai kita mati. Pada saat kita memberikan PR kepada otak kita, dia akan mencari jawabannya. Ketika kita bangun, minimal ada AHA moment-nya kalau kita membawa masalah untuk diselesaikan sebelum kita tidur. Akan tetapi, jangan membawa masalah dengan pasangan hidup sebelum kita tidur.

  • Rasulullah ﷺ membagi malam hari menjadi 3 bagian. Sepertiga malam yang pertama itu untuk keluarga. Contoh: Kalau waktu malam hari itu ada 9 jam. Maka 3 jam yang pertama itu milik keluarga kita (anak dan pasangan hidup). Kita bisa melakukan pillow talk dengan pasangan, family time (makan bareng atau nonton film bersama). Kalau waktu kita manfaatkan untuk hal-hal yang seperti ini, maka itu sudah termasuk ibadah. Sepertiga malam yang kedua untuk istirahat tubuh kita. Sedangkan sepertiga malam yang ketiga itu untuk Allah. Ustadz Felix sendiri biasanya bangun di 1–1,5 jam malam terakhir untuk salat tahajud atau berdiam diri dan berpikir cara untuk membuat dakwah bisa lebih cepat, lebih baik dan lebih banyak diterima oleh orang lain. Beliau menyebut ini adalah waktu untuk me time.

  • Menurut Pandji, saat kita bangun di pagi hari, lalu diam dan memikirkan sesuatu, dalam dunia seni hal ini disebut pengeraman. Memikirkan konsep seni yang akan dibuat esok hari. Makanya, kesenian itu diawali dengan konsep.

  1. Manfaat puasa untuk kesehatan dan disiplin diri.
  • Kesehatan. Menurut penelitian, minimal 30 hari puasa dalam setahun sangat disarankan untuk menjaga kesehatan pencernaan (mikrobiologis di perut).

  • Kontrol diri. Puasa adalah latihan untuk menahan diri. Jika seseorang bisa mengendalikan nafsu makan dan emosinya selama bulan Ramadan, maka diharapkan ia bisa melakukannya di bulan-bulan yang lain. Ketika kita bisa menahan nafsu di atas perut dan di bawah perut kita, maka akan ada banyak pintu kebaikan yang terbuka.

  • Keimanan yang privat. Puasa disebut sebagai ibadah yang sangat privat karena hanya Allah dan individu tersebut yang tahu apakah mereka benar-benar sedang berpuasa atau tidak. Pandji merefleksikan bahwa rasa takut untuk minum saat sendirian adalah bukti nyata masih adanya iman kepada Allah di dalam dirinya. Masih ada perasaan bahwa ia dilihat oleh Allah. Ketika kita minum saat sedang puasa, itu tanda kita sedang berbohong kepada Allah. Menurut Ustadz Felix, orang lain bisa melihat kita sedang berpuasa atau tidak, tetapi yang benar-benar tahu kita puasa atau tidak itu hanya Allah. Itulah esensi puasa: untuk menahan diri. Allah mengatakan bahwa ibadah puasa ini untuk-Nya. Karena sedemikian privatnya ibadah puasa, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Pada ibadah yang lain kebanyakan kita justru disuruh untuk bersama-sama.

  1. Apakah puasa-puasa yang lain juga ditujukan untuk memfokuskan diri kita kepada sesuatu? Semua puasa tujuannya sama. Menahan diri kita dari yang dilarang oleh Allah dan fokus pada yang diinginkan oleh Allah untuk dilakukan.

  2. Mitos dan fakta seputar puasa:

  • Emosi dan puasa. Marah atau menangis tidak membatalkan puasa secara hukum (fikih), namun dapat mengurangi pahala jika tidak dapat dikelola dengan benar. Akan tetapi, jika kita marah dan menangisnya karena Allah, maka kita justru akan mendapatkan tambahan pahala. Jadi yang membatalkan puasa hanya makan, minum, dan keluar mani dengan alasan yang tidak benar. Kalau kita tidur saat sedang puasa, lalu mimpi basah sampai keluar mani, maka itu tidak membatalkan puasa. Kita hanya tinggal mandi wajib saja supaya bisa sholat. Nabi Muhammad ﷺ pernah berperang saat sedang puasa. Ini tidak membatalkan puasa. Kalau kita misuh saat sedang puasa, juga tidak membatalkan puasa. Hanya dapat mengurangi pahala puasa kita. Kenapa Rasulullah ﷺ justru berperang saat sedang puasa? Pada saat itu, keterkaitan atau koneksi orang dengan Allah sedang berada di titik yang maksimal. Otomatis orang akan menjadi lebih kuat. Kekuatan yang sebenarnya itu datang dari niat, bukan dari makanan, karena makanan hanya pelengkap saja. Contoh: Seorang ibu bisa kuat mengendong anaknya lebih lama daripada ayahnya. Kalau saat kita sedang puasa dan ada orang yang mengajak ribut, maka katakan, “Mohon maaf, aku sedang terkoneksi dengan Allah. Aku tidak mau melayani kamu.” Bulan Ramadan adalah saat di mana kita sedang terkoneksi dengan Allah, maka jangan berikan ruang untuk yang lain. Di bulan Ramadan yang paling penting untuk dilakukan adalah menemukan koneksi dengan Allah, dan bukan tidak makan dan minum. Itulah pentingnya Al-Qur’an, untuk mengkoneksikan kita dengan Allah. Kalau koneksi ini sudah ditemukan, maka insya Allah kita akan lebih gampang untuk menjalankan ibadah puasa. Contoh: Saat kita melakukan itikaf di bulan Ramadan, maka kita bisa sampai meninggalkan handphone di rumah.

  • Berbuka dengan yang manis. Ustadz Felix menjelaskan bahwa slogan “berbukalah dengan yang manis” sebenarnya adalah strategi pemasaran dari sebuah brand, bukan perintah agama yang spesifik. Rasulullah ﷺ mencontohkan berbuka dengan apa yang ada, bahkan jika hanya dengan seteguk air. Ada juga orang yang berbuka dengan berhubungan suami istri. Hal ini karena bagi orang tersebut ujian terberatnya saat sedang berpuasa adalah tidak bisa berhubungan dengan istrinya. Menurut Ustadz Felix, saat seseorang tidak makan, tubuhnya merasa berada dalam keadaan bahaya. Seluruh makhluk hidup, saat tubuhnya merasa berada dalam keadaan bahaya, maka respons pertamanya adalah melakukan reproduksi. Tujuannya agar kehidupan terus berlanjut.

  • Tidur saat puasa. Ungkapan “tidur adalah ibadah” tidak memiliki dasar hadits yang kuat secara tekstual, namun tidur bisa bernilai ibadah jika niatnya adalah untuk mengumpulkan tenaga demi bisa beribadah di malam hari. Tetapi bukan berarti kita tidur seharian sampai tidak mengerjakan sholat, karena kita tetap harus terkoneksi dengan Allah.

  1. Apa aktivitas inti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ di bulan Ramadan? Yang paling inti adalah membaca Al-Qur’an. Malaikat Jibril paling banyak mendatangi Rasulullah ﷺ di bulan Ramadan. Kedua, Rasulullah ﷺ itu adalah orang yang pemurah. Beliau jauh lebih pemurah di bulan Ramadan. Salah satu efek dari puasa itu adalah memberi. Ketika seseorang mau memberi kepada orang lain, maka ia dijamin akan mendapat pahala. Pada saat kita berpuasa, bisa saja kita tidak ikhlas menjalankannya. Akan tetapi, saat kita bisa memberi kepada orang lain, maka itu adalah salah satu pertanda bahwa Allah menerima amalan kita. Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapapun yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.” Ketiga, Rasulullah ﷺ belajar kepada Malaikat Jibril dan mengajari sahabatnya. Makanya seorang guru sangat besar pahalanya di bulan Ramadan kalau saat ia mengajar dikaitkan dengan Allah. Keempat, Rasulullah ﷺ berperang untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Kelima, menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya, kecuali di sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadan. Rasulullah ﷺ memisahkan diri dari keluarganya agar bisa fokus beribadah kepada Allah. Pada saat itu Rasulullah ﷺ banyak berdoa dengan doa sebagai berikut: “Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”. Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Zat yang Maha Pengampun, Engkau mencintai ampunan, maka ampunilah aku.” Rasulullah ﷺ berkata, “Siapapun yang memasuki bulan Ramadan, lalu tidak diampuni oleh Allah dosa-dosanya, maka dia rugi.” Pada saat ini siapa pun orang yang mau bertobat kepada Allah, maka akan diampuni dosanya. Bulan Ramadan adalah waktu di mana “pengaturan” dunia diubah oleh Allah agar manusia lebih mudah terkoneksi dengan-Nya melalui berbagai amal kebaikan dan pengendalian diri. Puasa itu intinya adalah kita mengambil kontrol terhadap badan kita, karena ketika kita dapat mengontrol badan, maka kita dapat mengontrol pikiran.

  2. Lailatul Qadar:

  • Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang terdapat pada 10 malam terakhir di bulan Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil.

  • Pada malam ini, Al-Qur’an diturunkan secara utuh dan sempurna dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia sebelum diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ayat pertama turun kepada Nabi Muhammad ﷺ pada tanggal 17 Ramadan (Surat Al-Qadr ayat 1-5).

  1. Apakah ada jenis puasa yang lainnya? Selain puasa Ramadan, terdapat beberapa puasa sunah lainnya seperti:
  • Puasa Syawal. Puasa selama 6 hari setelah Idul Fitri di bulan Syawal.

  • Puasa Arafah. Dilakukan saat jamaah haji sedang melaksanakan wukuf di Arafah.

  • Puasa Dzulhijah. Puasa yang dilakukan pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijah.

  • Ayyamul Bidh. Puasa di pertengahan bulan (tanggal 13, 14, 15 kalender Hijriah) untuk mendekatkan diri kepada Allah.

  • Puasa Senin dan Kamis. Puasa ini direkomendasikan oleh Rasulullah ﷺ karena Allah mengangkat pahala orang di hari Senin dan Kamis.

  • Puasa Nabi Daud a.s. Puasa selang-seling (sehari puasa, sehari tidak), yang merupakan tingkat puasa sunah tertinggi.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf dan juga mohon koreksi jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum. Barakallahu fikum.

Note: Mohon untuk menonton juga video lengkap podcast yang ada di link Youtube di atas.

#PandjiPragiwaksono #FelixSiauw #PutarBalik #Putbal #islamic #puasa

Ditulis oleh: Fanny Angelia

Bagikan artikel ini: