Podcast: Pandji Pragiwaksono & Ustadz Felix Siauw
Sumber: YouTube
Artikel Asli: Blogspot
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dalam podcast Putar Balik (Putbal) episode 23 ini, Pandji Pragiwaksono dan Ustadz Felix Siauw membahas tauhid. Ada beberapa hal menarik yang dibahas dalam podcast ini, sebagai berikut:
1. Definisi tauhid secara bahasa.
Secara bahasa Indonesia, tauhid berarti menyatukan atau menjadikan satu (oneness), yang berasal dari kata wahhada dalam bahasa Arab yang artinya satu atau ahad. Esensinya adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya pusat/sentral dalam kehidupan kita. Tauhid itu adalah hasil dari usaha kita untuk memurnikan sesuatu pada Allah.
2. Kondisi masyarakat Arab Jahiliyah (Rabb vs. Ilah).
Ustaz Felix menceritakan bahwa sebelum agama Islam datang ke Arab, nama ayah Rasulullah ﷺ adalah Abdullah (hamba Allah). Artinya, masyarakat Arab saat itu sudah mengenal Allah sebagai “Rabb” (pencipta dan pengatur alam semesta). Namun, mereka membedakannya dengan “Ilah” (sesembahan, tempat meminta perlindungan sehari-hari), seperti berhala Lata, Uzza, dan Manat yang menjadi dewa mereka. Syirik adalah tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang disembah. Ia merasa bahwa Allah menciptakannya, tetapi ia tidak mau diatur oleh Allah. Inilah pemahaman orang-orang Arab Jahiliyah saat itu. Bagi mereka, Rabb dan Illah itu berbeda. Agama Islam datang dengan kalimat tauhid: Laa ilaha illallah untuk menyatukan konsep Rabb dan Ilah agar manusia hanya menyembah Allah semata. Jadi kita mengesakan Allah dalam segala sesuatu. Pada saat awal sholat kita masih mengingat Allah (Allah menjadi foreground). Tetapi seiring berjalannya waktu saat mengerjakan sholat, perlahan posisi Allah mulai mundur ke belakang (Allah menjadi background). Kita mulai mengingat pekerjaan dan hal yang lain, sehingga posisi Allah mulai mundur ke belakang. Maka kita harus mengembalikan pikiran kita untuk tetap menghadap Allah. Sayangnya, setelah selesai sholat, sering kali kita kembali menempatkan Allah di belakang (menjadi background). Menjadikan Allah selalu di depan itu adalah tauhid. Semua berpusat di sana. Kalau seseorang meyakini bahwa Tuhannya adalah Allah, maka saat ia mau melakukan sesuatu, ia akan berpatokan pada Allah, karena Allah melihat semua perbuatannya. Ia akan melakukan yang terbaik. Ia tidak akan mengambil sesuatu yang haram dalam hidupnya. Jadi tauhid ini tidak bisa diperdebatkan. Di zaman Rasulullah ﷺ tidak ada teori tentang tauhid, yang ada adalah praktik tentang tauhid.
3. Menanggapi perdebatan netizen mengenai “Rezeki dari Allah tetap sama baik saat dolar Rp 8.000 maupun Rp 18.000”
Ustadz Felix menjelaskan bahwa ketika seseorang bertauhid, artinya ia mengesakan Allah dalam segala hal. Berarti ia akan mengembalikan semuanya kepada Allah. Menjadikan Allah sebagai pusat atau foreground dari segala sesuatu. Ketika kurs dolar naik ke Rp 18.000, maka sebagai seorang Muslim yang bertawakal, percaya bahwa hidup dan mati itu karena Allah. Jadi tidak ada yang buruk selama Allah dijadikan pusat atau foreground dari segala aktivitas kita. Dalam tauhid, kita percaya bahwa Allah yang memberi rezeki. Allah menjamin rezeki dari masing-masing orang. Tidak akan mati seseorang, sebelum rezekinya dipenuhi oleh Allah. Para ulama mengatakan bahwa manusia itu dikejar oleh dua makhluk yang manusia tidak akan bisa lepas. Pertama adalah ajal dan yang kedua adalah rezeki. Di mana rezeki ini disuruh jalan duluan, dan ajal menunggu di belakang rezeki. Ajal hanya boleh masuk, kalau rezeki sudah selesai dibagikan kepada manusia.
4. Apakah kalau rezeki memang sudah ditakdirkan jumlahnya untuk setiap manusia, berarti kita tidak perlu lagi berusaha?
Sebagian umat Islam ada yang salah dalam mempelajari Islam. Ia menganggap agama Islam hanyalah agama ritual, sehingga segala sesuatu dikembalikan kepada perkara-perkara mistis. Contoh: Anaknya bodoh karena kurang sholat. Muka anaknya jerawatan, karena kurang puasa. Ia sering marah-marah karena kurang sholat tahajud. Rezekinya tidak naik-naik karena kurang sedekah. Padahal Rasulullah ﷺ tidak pernah mengaitkan perkara mistis dengan agama Islam. Saat ada seseorang yang meminta uang kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ balik bertanya kepada orang tersebut, “Apa yang kamu miliki di rumah dan bisa dijual?” Orang ini kemudian datang kembali kepada Rasulullah ﷺ membawa taplak meja. Lalu taplak meja itu ditawarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabat. Akhirnya ada sahabat yang mau membeli taplak meja itu. Hasil penjualan taplak itu oleh Rasulullah ﷺ dibagi 2. Separuh digunakan untuk membeli makanan bagi keluarga orang itu, dan separuhnya lagi untuk membeli kapak. Setelah itu Rasulullah ﷺ menyuruh orang itu untuk berusaha menggunakan kapaknya dan baru boleh kembali ke Rasulullah ﷺ setelah 15 hari. Jadi Rasulullah ﷺ juga menentukan waktu evaluasi usaha orang tersebut. Setelah 15 hari, orang itu kembali kepada Rasulullah ﷺ membawa uang hasil dari pekerjaannya menggunakan kapak tersebut. Rasulullah ﷺ kembali membagi 2, sebagian untuk keluarga orang tersebut, dan sebagian lagi untuk modal usaha orang itu ke depannya. Rasulullah ﷺ membantu mengelola hidup orang ini sehingga ada dasar sebab akibat dari usahanya. Rasulullah ﷺ tidak pernah memisahkan sebab dan akibat dalam agama Islam. Bahkan saat membahas strategi perang, Rasulullah ﷺ tidak keberatan untuk menerima usulan dari para sahabat yang dinilai lebih ahli dalam membuat strategi perang. Rasulullah ﷺ bertindak logis dan menggunakan strategi terbaik dalam kehidupan maupun peperangan, bukan sekadar pasrah pada perkara mistis. Para ulama mengatakan bahwa Allah menunjukkan di dalam Al-Qur’an bahwasanya Allah bisa membantu siapa pun, kapan pun, dan dengan cara apa pun yang Dia mau. Tapi Allah meminta hamba-Nya untuk benar-benar melakukan yang terbaik sampai hamba itu pantas mendapat pertolongan. Contoh: Nabi Musa a.s. disuruh Allah untuk membawa Bani Israil pergi meninggalkan Mesir. Padahal bisa saja kalau Allah mau untuk langsung menenggelamkan Fir’aun dan orang Mesir di Mesir. Tetapi kalau ini Allah lakukan, maka tidak ada ujian keimanan untuk Bani Israil. Ujian itu ada untuk menilai mana orang yang memiliki kualitas emas sesungguhnya dan mana yang emas KW.
5. Tawakal yang benar justru mendorong seseorang untuk melakukan usaha maksimal karena ia yakin Allah akan membalas proses tersebut.
Rezeki kita memang sudah dijamin oleh Allah, akan tetapi kita tidak boleh menafikan sebab dari datangnya rezeki tersebut. Saat nilai kurs dolar naik terhadap rupiah, ada banyak hal yang dapat menyebabkan hal itu terjadi. Ada faktor dari ilmu ekonomi yang harus dipahami dan kesalahan pemerintah dalam membuat kebijakan sehingga nilai kurs dolar naik. Jadi ada faktor sebab-akibat di sini. Orang-orang yang tidak pernah mempertimbangkan sebab akibat dengan maksimal, sebenarnya dia tidak bertawakal kepada Allah. Tawakal itu kita memberikan sebab akibat yang paling tinggi di dalam hal itu. Orang yang yakin akan mau berusaha lebih banyak daripada orang yang tidak yakin. Kalau kita akan bernegosiasi dengan orang lain, maka bersikapkan bahwa ini benar-benar sudah terjadi. Para motivator mengatakan kalau kita mau menjadi seperti orang yang kita kagumi, maka bersikaplah seolah-olah kita sudah jadi orang yang seperti itu. Ini adalah masalah mental state yang akan mengendalikan seluruh badan kita. Demikian juga, keyakinan kita bahwa Allah pasti akan menghargai dan membalas semua usaha terbaik yang kita lakukan akan membuat kita berusaha menerapkan hukum sebab-akibat secara maksimal.
6. Pasrah berbeda dengan tawakal
. Pasrah itu tidak ada usahanya. Tawakal itu memberikan usaha terbaik karena yakin Allah akan memberikan yang terbaik dengan mengusahakan sebab-akibat yang paling optimal. Contoh: Kisah Nabi Ibrahim a.s. saat ingin dibakar oleh Raja Namrud. Semut tahu air yang ia bawa tidak akan mampu memadamkan api yang sedang membakar Nabi Ibrahim a.s. Tetapi semut juga tahu bahwa ini adalah usaha terbaik yang dapat ia lakukan dan dapat menjadi alasan nanti saat menghadap Allah. Mengatakan agar orang tetap bertawakal kepada Allah di masa yang sulit adalah hal yang benar, akan tetapi juga harus melihat konteksnya. Saat ini ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan, tidak bisa makan, dan utang mereka bertambah banyak, sehingga ucapan itu menjadi kurang bijak untuk diucapkan saat ini. Hal ini harus dipahami oleh setiap Da’i. Demikian juga saat kita mau berjihad di jalan Allah, kita harus menyiapkan peralatan perang secara maksimal. Kalau tidak dilakukan, maka kalau mati, tidak dianggap sebagai mati syahid. Jihad itu adalah mengusahakan yang terbaik. Jadi ketika ada orang yang tidak melakukan usaha terbaik saat berjihad, maka dia tidak mati dalam keadaan syahid, karena tidak ada usaha terbaiknya. Rasulullah ﷺ memilih untuk berdakwah ke Thaif karena secara geografi tempatnya lebih terlindungi ( sebagai benteng alami) dan memiliki lebih banyak makanan dan air daripada Kota Madinah yang lebih datar dan mudah diserang orang. Ini adalah pertimbangan sebab akibat yang paling baik menurut pemikiran Rasulullah ﷺ saat itu. Allah akhirnya memberikan kota Madinah kepada Rasulullah ﷺ. Allah selalu memberikan yang terbaik kepada orang-orang yang meyakini-Nya. Tetapi Allah juga mengharuskan kita untuk berbuat yang terbaik dulu untuk mendapatkan hal itu.
7. Pandji menganalogikan orang yang tidak bertawakal berdasarkan cerita orang yang tenggelam
Orang tersebut menolak bantuan dari 3 kapal yang datang kepadanya. Ia merasa sudah meminta tolong langsung kepada Tuhan untuk diselamatkan, sehingga mengabaikan pertolongan dari manusia lain. Ini adalah bentuk tawakal yang keliru. Ustadz Felix mengilustrasikannya lewat kisah Rasulullah ﷺ yang kakinya bengkak karena sholat malam meskipun sudah dijamin masuk surga oleh Allah. Beliau tetap sholat malam karena ingin lebih bersyukur lagi kepada Allah justru karena sudah dijamin masuk surga. Jadi, kalau kita yakin kepada Allah, maka kita harus berusaha yang terbaik dan bukannya malah ongkang-ongkang kaki. Allah akan menolong kita dengan cara yang Allah mau, bukan dengan cara yang kita mau. Allah menyuruh kita berusaha. Hal ini ada di dalam Al-Qur’an. Bertauhid itu tidak meniadakan proses, bahkan seharusnya meningkatkan proses. Karena kita malu kepada Allah yang sudah menjamin rezeki kita, maka kita harus berusaha lebih keras lagi.
8. Tiga pembagian teori tauhid.
Untuk memudahkan pembelajaran, ada ulama yang membagi tauhid menjadi tiga bagian, yaitu:
-
Tauhid Rububiyah: Mengesakan Allah sebagai pencipta, pengatur, pelindung, dan pemelihara alam semesta.
-
Tauhid Uluhiyah: Menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan tempat bergantung.
-
Tauhid Asma wa Sifat: Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Semoga bermanfaat. Mohon maaf dan juga mohon koreksi jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum. Barakallahu fikum.
Note: Mohon untuk menonton juga video lengkap podcast yang ada di link Youtube di atas.
#PandjiPragiwaksono #FelixSiauw #PutarBalik #Putbal #islamic #faith #tauhid